AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 25,5 poin ke level Rp15.629,5 pada perdagangan Rabu (9/10/2024) menyusul berbagai sentimen eksternal dan internal.
Menurut Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, sentimen global terutama terkait kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi di Asia berperan besar dalam menggerakkan pasar.
Setelah laporan pekerjaan AS yang kuat pada minggu sebelumnya, investor mengambil jeda untuk mengevaluasi prospek suku bunga Federal Reserve (Fed). Kenaikan dolar AS menjadi salah satu dampak langsung dari laporan tersebut, di mana para pelaku pasar meredam ekspektasi penurunan suku bunga yang sebelumnya diantisipasi lebih agresif.
Pada hari Rabu, risalah rapat Federal Reserve bulan September diperkirakan akan memberikan wawasan lebih lanjut mengenai sikap para pembuat kebijakan terkait suku bunga. Awalnya, hampir semua pembuat kebijakan menyetujui pemotongan hingga 50 basis poin.
"Namun, data tenaga kerja yang kuat mendorong pasar untuk merevisi ekspektasi, dan saat ini ada peluang sebesar 85 persen bahwa Fed hanya akan menurunkan suku bunga sebesar seperempat basis poin," ujarnya, Rabu (9/10/2024).
Baca Juga: Rupiah Ambruk 202 Poin ke Rp15.687
Laporan Indeks Harga Konsumen AS bulan September yang akan dirilis pada Kamis (10/10/2024) menjadi sorotan pasar dan akan memberikan petunjuk penting terkait arah kebijakan Fed ke depan. Selain kebijakan moneter AS, pernyataan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba yang menentang kenaikan suku bunga lebih lanjut juga mempengaruhi pasar Asia.
Ishiba, yang terkenal sebagai pengkritik kebijakan moneter longgar, mengumumkan bahwa Jepang belum siap untuk pengetatan suku bunga meskipun negara tersebut bersiap menghadapi pemilihan umum pada 27 Oktober. Ini menjadi faktor yang diperhitungkan investor menjelang pertemuan kebijakan moneter Bank Jepang.
Di sisi lain, pasar tetap waspada terhadap perkembangan di China. Meski Beijing menegaskan keyakinannya untuk mencapai target pertumbuhan tahunan, investor kecewa karena tidak ada langkah-langkah fiskal tambahan yang diperkenalkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi.
Kondisi ini tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai oleh para pelaku pasar global. Dalam situasi eksternal yang terus bergejolak, pergerakan rupiah akan terus dipengaruhi oleh perubahan kebijakan global, terutama di sektor moneter AS dan dinamika di Asia.
Sentimen Internal
Dari sisi internal, optimisme konsumen di Indonesia tetap terjaga sepanjang September 2024. Kondisi ekonomi dalam negeri juga turut mempengaruhi pergerakan mata uang rupiah. Beberapa indikator penting yang berasal dari survei dan laporan Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen terhadap perekonomian tetap terjaga, meskipun terjadi perubahan dalam pola konsumsi dan tabungan masyarakat.
Pada September 2024, Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level optimis, yaitu 123,5. Tingginya indeks ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni keyakinan terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi optimis terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 113,9, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 133,1. Kedua indeks ini mencerminkan bahwa konsumen masih memiliki optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Peningkatan IKK ini paling banyak terlihat pada responden dengan pengeluaran antara Rp3,1 hingga Rp4 juta.
Namun, survei juga mencatat adanya penurunan tingkat tabungan di kalangan masyarakat, meskipun konsumsi mengalami peningkatan. Pada September 2024, proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 73,5% menjadi 74,1%, sementara proporsi pendapatan yang disimpan menurun dari 15,7% menjadi 15,3%. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih banyak mengandalkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yang dikenal dengan istilah "makan tabungan" atau mantab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










