Bank Sentral Thailand Pangkas Suku Bunga 25 Basis Poin, Pelonggaran Moneter Pertama dalam 4 Tahun

AKURAT.CO Bank sentral Thailand, Bank of Thailand (BoT), mengambil langkah yang tidak terduga dengan memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat tahun. Keputusan ini menandai perubahan sikap BoT yang sebelumnya menolak tekanan pemerintah untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Melansir Bloomberg, dalam pertemuan pada Rabu (16/10/2024) kemarin, BoT memutuskan dengan suara mayoritas 5:2 untuk menurunkan suku bunga sebesar 0,25% menjadi 2,25%. Hanya lima dari 28 ekonom dalam survei Bloomberg yang memprediksi langkah ini, sementara dua anggota Komite Kebijakan Moneter mendukung untuk mempertahankan suku bunga di 2,5%.
Keputusan ini menarik perhatian karena sikap BoT yang selama ini menjaga independensinya dari pengaruh pemerintah. Gubernur BoT, Sethaput Suthiwartnarueput, bahkan menegaskan pentingnya menjaga independensi kebijakan moneter pada bulan lalu.
Baca Juga: Alasan Bank Sentral Thailand Tahan Suku Bunga
Namun, tekanan dari pemerintah, termasuk Menteri Perdagangan Pichai Naripthaphan yang meminta penurunan suku bunga 50 basis poin, dan Federasi Industri Thailand yang menginginkan pemotongan 25 basis poin, tampaknya berperan dalam perubahan ini.
Meskipun inflasi inti diproyeksikan tetap dalam target di 0,5% untuk tahun ini, penguatan baht sebesar 14% dalam kuartal terakhir menyebabkan kekhawatiran atas daya saing ekspor Thailand. Penurunan nilai tukar baht setelah pengumuman suku bunga memicu reaksi di pasar, dengan mata uang tersebut turun ke level THB33,384 per USD.
Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra, yang melanjutkan agenda pendahulunya untuk memperluas pengaruh terhadap bank sentral, belum secara langsung mendorong pemotongan suku bunga. Namun, seruan dari berbagai menteri kabinetnya menunjukkan tekanan yang terus mengarah pada upaya meringankan beban ekonomi, meskipun ekonomi Thailand tumbuh paling cepat dalam lima kuartal terakhir.
Langkah ini dipandang sebagai upaya BoT untuk menyeimbangkan tantangan domestik, seperti utang rumah tangga yang tinggi dan sektor manufaktur yang terdampak impor murah dari China, dengan kebutuhan menjaga stabilitas moneter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









