BI Buka Ruang Pelonggaran Moneter, Syaratnya Dua Hal Ini
Hefriday | 20 November 2025, 07:14 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memberi sinyal masih adanya ruang untuk memangkas suku bunga acuan BI-Rate setelah sebelumnya menurunkannya sebanyak lima kali sejak awal 2025.
Total penurunan mencapai 125 basis poin dan membawa BI-Rate berada pada posisi 4,75%, level terendah sejak 2022.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi November 2025 di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Menurutnya, peluang pelonggaran moneter lanjutan tetap terbuka dengan mempertimbangkan perkembangan domestik dan global. “Ya, masih ada ruang penurunan suku bunga dengan dua pertimbangan,” ujar Perry saat menjawab pertanyaan media dalam forum tersebut.
Dirinya menjelaskan, pertimbangan pertama terkait outlook inflasi 2025 dan 2026 yang diperkirakan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5% ±1%. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengarahkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Baca Juga: BI Rate Kembali Ditahan di 4,75 Persen
Pertimbangan kedua adalah kebutuhan mendorong pemulihan dan penguatan pertumbuhan ekonomi nasional. Perry menilai kinerja ekonomi Indonesia saat ini masih berada di bawah kapasitas optimal sehingga stimulus tambahan diperlukan guna mempercepat ekspansi.
Meski demikian, ia menegaskan keputusan mengenai besaran dan waktu pemangkasan suku bunga berikutnya akan bersifat data dependent. Artinya, arah kebijakan akan menyesuaikan dinamika ekonomi global, termasuk perkembangan di Amerika Serikat, serta kondisi ekonomi domestik ke depan.
Untuk saat ini, BI memprioritaskan stabilitas, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah, sebagai fokus kebijakan jangka pendek. Langkah ini dianggap penting agar perekonomian tetap tangguh menghadapi ketidakpastian global yang kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Perry mengungkapkan bahwa setelah sempat mereda sejalan dengan kemajuan negosiasi tarif AS, ketidakpastian global kembali naik.
Penyebabnya antara lain government shutdown di AS yang menjadi yang terlama dalam sejarah, serta inflasi AS yang masih tinggi sehingga membuat The Fed berhati-hati dalam menurunkan Fed Funds Rate.
“Fokus jangka pendek kami adalah stabilitas nilai tukar rupiah, sembari terus memperkuat transmisi pelonggaran moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh,” kata Perry.
Dalam RDG yang digelar pada 18–19 November 2025, BI memutuskan menahan BI-Rate di level 4,75%. BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility pada 3,75% dan lending facility pada 5,5%.
Sejalan dengan keputusan tersebut, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu sore menguat 43 poin atau 0,26% menjadi Rp16.708 per USD. Sementara itu, kurs JISDOR turut mencatat penguatan ke posisi Rp16.732 per USD dari sebelumnya Rp16.760 per USD.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









