AKURAT.CO Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menarik perhatian publik soal suntikan dana besar dari beberapa donatur kaya di akhir kampanyenya.
Meski total donasi yang ia kumpulkan jauh lebih kecil dibanding saingannya dari Partai Demokrat, Kamala Harris, langkah Trump tersebut pada akhirnya menimbulkan pertanyaan tentang hubungan antara kontribusi finansial dan jabatan dalam pemerintahannya.
Salah satu tokohnya yakni CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk dikabarkan telah menyumbang hingga USD75 juta kepada super PAC pro-Trump menjelang Pemilu, ditambah USD45 juta pasca Trump mendeklarasikan kemenangan. Sehingga menghasilkan, Musk ditunjuk untuk memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah bersama pengusaha Vivek Ramaswamy.
Baca Juga: Khawatirkan Tarif Agresif Trump, Ini Harapan Bos The Fed
Tak hanya Musk saja yang kebagian jatah kabinet, melansir dari Bloomberg, donatur besar lainnya juga mendapat posisi strategis. Seperti CEO dari Cantor Fitzgerald, Howard Lutnick yang menyumbang hampir USD5 juta, berkat sumbangan tersebut kini Howard diusulkan menjadi Menteri Perdagangan.
Kemudian Jeffrey Sprecher selaku pendiri Intercontinental Exchange, yang menyumbang USD1 juta kini istrinya, Kelly Loeffler, dinominasikan untuk memimpin Administrasi Usaha Kecil.
Oleh karena itu, saat ini kabinet Trump digadang-gadang bakal menjadi salah satu pemerintahan terkaya dalam sejarah modern AS. Fenomena ini menggambarkan bagaimana kontribusi kampanye dapat memengaruhi arah politik suatu pemerintahan.
Dimana Trump, yang awalnya mendapat dukungan dari sumbangan kecil rakyat biasa pada 2016, kini sepenuhnya bergantung pada miliarder untuk pencalonan ketiganya tersebut.
Sehingga hal ini menunjukkan perubahan sikap donatur kaya Partai Republik terhadap Trump, yang dari awalnya dianggap orang luar partai, kini ia diterima sebagai tokoh perubahan di GOP. Dukungan mereka menjadi krusial di minggu-minggu terakhir kampanye, ketika super PAC pro-Trump berhasil mengumpulkan kurang lebih USD260 juta.
Namun sayangnya, di balik gelimpangan kemewahan tersebut, muncul kritik soal transparansi dan potensi konflik kepentingan. Apakah jabatan penting ini diberikan sebagai imbalan atas kontribusi besar? Sebab hal ini menjadi salah satu tantangan besar yang harus dijawab pemerintahan Trump di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









