World Bank Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi China
Demi Ermansyah | 27 Desember 2024, 17:12 WIB

AKURAT.CO World Bank atau Bank Dunia baru saja menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk tahun 2024 dan 2025. Meski begitu, lembaga internasional tersebut mengingatkan bahwa jalan menuju pemulihan masih penuh rintangan.
Kepercayaan konsumen dan bisnis yang lemah serta masalah di sektor properti terus menjadi momok yang menghambat langkah ekonomi negeri Tirai Bambu.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) China mencapai 4,9% di tahun 2024, sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8%. Beijing sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% tahun ini, target yang dinilai optimistis meski menghadapi tantangan besar.
Baca Juga: Belum Temui Benang Merah, China Perpanjang Investigasi Antidumping Brendi Eropa
Namun, untuk tahun 2025, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 4,5%. Meskipun lebih rendah, angka ini masih lebih baik dibandingkan proyeksi awal sebesar 4,1%.
Namun, untuk tahun 2025, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 4,5%. Meskipun lebih rendah, angka ini masih lebih baik dibandingkan proyeksi awal sebesar 4,1%.
Tantangan utama yang diprediksi akan terus membayangi hingga 2025 adalah lambatnya pertumbuhan pendapatan rumah tangga, penurunan harga properti, dan efek kekayaan negatif yang membebani konsumsi masyarakat.
Menurut Direktur Bank Dunia untuk China, Mara Warwick menangani masalah di sektor properti, memperkuat jaring pengaman sosial, serta meningkatkan keuangan pemerintah daerah akan menjadi kunci pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Direktur Bank Dunia untuk China, Mara Warwick menangani masalah di sektor properti, memperkuat jaring pengaman sosial, serta meningkatkan keuangan pemerintah daerah akan menjadi kunci pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
“Penting untuk menyeimbangkan kebutuhan mendesak untuk mendorong pertumbuhan dengan reformasi struktural jangka panjang,” ungkapnya melalui lansiran Reuters, Jumat (27/12/2024).
Selain itu, potensi kenaikan tarif barang-barang China oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden terpilih Donald Trump menambah ketidakpastian ekonomi. Sehingga situasi ini bisa memberikan tekanan tambahan pada ekspor, salah satu motor penggerak ekonomi utama China.
Dengan kombinasi pelonggaran kebijakan dan kekuatan ekspor jangka pendek, pemerintah China optimistis dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi. Namun, tetap dibutuhkan kebijakan strategis untuk menjaga momentum pemulihan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








