AKURAT.CO Anggota Dewan Gubernur ECB sekaligus Gubernur Bank sentral Austria, Robert Holzmann menjelaskan bahwasanya dirinya menilai banyak sekali pengaruh kebijakan perdagangan internasional yang semakin agresif di bawah kepemimpinan Presiden AS, Donald Trump, terhadap perekonomian global, termasuk kawasan euro.
Dimana menurutnya, kebijakan tarif yang diterapkan oleh AS dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan global, namun disisi lain, juga bisa menciptakan tekanan inflasi, terutama bagi negara-negara dengan ketergantungan besar pada impor.
Holzmann menambahkan bahwa dampak dari kebijakan tarif tersebut akan sangat bergantung pada seberapa besar penguatan dolar AS dan pelemahan euro. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah bahwa tarif yang diterapkan Trump menyebabkan perlambatan pertumbuhan secara keseluruhan, namun juga menciptakan tekanan inflasi," ujarnya melalui lansiran Bloomberg, Senin (30/12/2024).
Holzmann menambahkan bahwa dampak dari kebijakan tarif tersebut akan sangat bergantung pada seberapa besar penguatan dolar AS dan pelemahan euro. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah bahwa tarif yang diterapkan Trump menyebabkan perlambatan pertumbuhan secara keseluruhan, namun juga menciptakan tekanan inflasi," ujarnya melalui lansiran Bloomberg, Senin (30/12/2024).
Kebijakan perdagangan yang lebih proteksionis, seperti yang dilakukan oleh AS sejak Trump menjabat pada Januari lalu, memang dapat mempengaruhi ekonomi negara-negara lain, termasuk Eropa.
Salah satu dampaknya adalah peningkatan biaya impor, yang bisa berdampak pada harga barang di dalam negeri. Jika biaya impor naik, maka harga barang di kawasan euro juga berpotensi meningkat, yang bisa menyebabkan inflasi lebih tinggi.
Namun, ada juga sisi positif dari kebijakan ini bagi negara-negara di kawasan euro. Jika euro melemah terhadap dolar, produk-produk dari kawasan euro akan menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Hal ini dapat membantu mendorong ekspor dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, jika melemahnya euro terlalu drastis, maka dampaknya terhadap inflasi bisa berbalik negatif, sehingga ECB harus berhati-hati dalam merumuskan kebijakan suku bunga.
Namun, ada juga sisi positif dari kebijakan ini bagi negara-negara di kawasan euro. Jika euro melemah terhadap dolar, produk-produk dari kawasan euro akan menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Hal ini dapat membantu mendorong ekspor dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, jika melemahnya euro terlalu drastis, maka dampaknya terhadap inflasi bisa berbalik negatif, sehingga ECB harus berhati-hati dalam merumuskan kebijakan suku bunga.
Situasi ini memperlihatkan betapa rumitnya hubungan antara kebijakan moneter di kawasan euro dengan kebijakan perdagangan global. ECB perlu memantau perkembangan kebijakan AS dengan cermat karena bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi kawasan euro dalam berbagai cara.
Kebijakan tarif yang diberlakukan AS, khususnya dalam hal perdagangan dengan negara-negara besar seperti China dan Eropa, bisa berdampak pada neraca perdagangan dan aliran barang yang mempengaruhi ekonomi global.
Sementara itu, ECB juga harus mempertimbangkan dampak dari perubahan nilai tukar antara euro dan dolar AS. Seiring dengan kebijakan perdagangan AS yang memengaruhi dolar, ECB harus menjaga agar euro tidak terdepresiasi terlalu tajam.
Sementara itu, ECB juga harus mempertimbangkan dampak dari perubahan nilai tukar antara euro dan dolar AS. Seiring dengan kebijakan perdagangan AS yang memengaruhi dolar, ECB harus menjaga agar euro tidak terdepresiasi terlalu tajam.
Jika euro melemah terlalu jauh, inflasi di kawasan euro bisa meningkat karena harga barang impor akan lebih mahal, yang pada akhirnya akan menghambat daya beli masyarakat. Bagi ECB, tantangan yang dihadapi dalam menghadapi pengaruh kebijakan luar negeri dan faktor eksternal seperti harga energi dan nilai tukar sangat besar.
Keputusan untuk menurunkan suku bunga harus diambil dengan hati-hati, mengingat adanya risiko inflasi yang bisa muncul akibat fluktuasi pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










