Akurat
Pemprov Sumsel

Defisit Fiskal AS Melonjak di Tengah Wacana Pemotongan Pajak

Demi Ermansyah | 19 Januari 2025, 19:25 WIB
Defisit Fiskal AS Melonjak di Tengah Wacana Pemotongan Pajak

AKURAT.CO Defisit anggaran pemerintah AS yang terus membengkak menjadi perhatian utama dalam politik. Di bawah kepemimpinan Donald Trump yang kembali menjabat, kebijakan pemotongan pajak tampaknya akan terus berlanjut, meski beban defisit semakin berat. 

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah AS bisa mengurangi defisit di tengah pengurangan pendapatan negara?

Dilansir Reuters, Minggu (19/1/2025), pada tahun anggaran 2024, pajak penghasilan pribadi menyumbang lebih dari 40% pendapatan negara, yaitu sekitar USD2,43 triliun.
 
 
Dengan rencana pemotongan pajak rata-rata 10%, pendapatan negara akan menyusut sekitar USD243 miliar. Ini berarti beban untuk memangkas pengeluaran agar defisit tidak semakin membengkak menjadi lebih berat.

Sementara itu, defisit pada tahun anggaran 2025 diproyeksikan mencapai USD2,84 triliun. Jika kebijakan pemotongan pajak tetap dilanjutkan, pemerintah harus mengurangi pengeluaran hingga lebih dari USD2,2 triliun untuk mencapai target pengurangan defisit sebesar US$2 triliun.

Bidang-bidang seperti pertahanan, Medicare, jaminan sosial, dan bunga utang adalah sektor terbesar dalam anggaran pemerintah. Namun, memotong anggaran di sektor ini bukanlah hal mudah. 
 
Pertahanan, misalnya, merupakan elemen penting dalam menjaga posisi AS di kancah internasional. Begitu pula Medicare dan jaminan sosial, yang menjadi penopang utama bagi jutaan warga, terutama kelompok lanjut usia.

Di sisi lain, bunga utang adalah pengeluaran yang tidak bisa dihindari. Semakin besar defisit, semakin tinggi pula bunga yang harus dibayar. Hal ini menciptakan lingkaran setan yang sulit diatasi.

Selain pemotongan pajak, kebijakan lain yang berpotensi memperbesar defisit adalah subsidi untuk sektor tertentu dan insentif bagi pelaku bisnis. Trump, yang dikenal dengan pendekatan pro-bisnis, cenderung memberikan kemudahan pajak bagi korporasi besar.
 
Kebijakan ini mungkin meningkatkan investasi dalam jangka pendek, tetapi dapat mengurangi pendapatan negara secara keseluruhan.

Ahli ekonomi juga mempertanyakan apakah pengurangan pajak benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cukup besar untuk menutup kehilangan pendapatan. Dalam banyak kasus, efeknya cenderung tidak sebanding.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.