AKURAT.CO Keputusan Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif impor 25% dari Kanada dan Meksiko serta 10% dari China bukan hanya mengancam hubungan dagang antarnegara, tetapi juga bisa langsung berdampak pada kantong konsumen Amerika sendiri.
Seperti yang diketahui, Kanada dan Meksiko merupakan dua dari tiga mitra dagang terbesar AS, yang menyumbang hampir setengah dari total impor Amerika. Dengan naiknya tarif, harga barang-barang sehari-hari seperti pangan, perumahan, dan bensin diperkirakan akan meningkat signifikan.
Langkah ini mengingatkan pada kebijakan serupa di masa lalu, yang akhirnya membuat warga AS harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan pokok.
Meskipun Trump mengklaim langkah ini dapat melindungi industri dalam negeri, banyak para ekonom justru memperingatkan bahwa kebijakan ini akan memperburuk inflasi yang selama ini menjadi perhatian utama masyarakat Amerika.
Mengutip Reuters, Senin (3/2/2025), salah satu dampak terbesar dari kebijakan tarif ini adalah kenaikan harga energi atau BBM. Trump memang memberikan tarif lebih rendah (10%) untuk impor minyak dan listrik dari Kanada, namun tetap saja, beban ini akan berdampak pada harga bensin dan minyak pemanas rumah tangga di AS.
Dampak ini bahkan bisa lebih luas jika negara-negara lain memutuskan untuk membalas kebijakan tarif ini dengan menaikkan harga ekspor mereka ke AS. Artinya, biaya hidup di Amerika bisa semakin mahal, dan daya beli masyarakat bisa tergerus.
Tak sampai disitu, akibat tarif tersebut membuat pasar keuangan ikut gonjang-ganjing. Dimana disaat dolar AS menguat, mata uang mitra dagangnya seperti peso Meksiko dan dolar Kanada malah melemah.
Pada akhirnya, kebijakan tersebut akan mengurangi Produk Domestik Bruto (PDB) AS hingga 1,2% dan meningkatkan inflasi sebesar 0,7%. Artinya, ekonomi AS bukan hanya akan melambat, tetapi juga bisa memicu krisis daya beli bagi warga Amerika sendiri.
Dengan lonjakan tarif ini, banyak pihak khawatir bahwa rantai pasokan global akan terganggu, memaksa perusahaan AS untuk menyesuaikan harga dan strategi bisnis mereka. Jika situasi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin gelombang PHK dan kebangkrutan bisnis kecil bisa terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








