Alasan Jepang Mati-matian Hindari Tarif Resiprokal AS
Demi Ermansyah | 16 Februari 2025, 22:44 WIB

AKURAT.CO Jepang sedang berupaya keras agar tidak terkena kebijakan tarif resiprokal yang akan diterapkan oleh Amerika Serikat (AS) tahun ini.
Dimana pemerintah Jepang khawatir kebijakan ini bisa berdampak besar pada industrinya, terutama di sektor baja, aluminium, dan otomotif.
Permintaan pengecualian ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, saat menghadiri Konferensi Keamanan Munich pada 15 Februari lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Iwaya menekankan bahwa Jepang tidak seharusnya terkena dampak dari kebijakan tarif baru AS.
"Saya menyampaikan pemikiran saya kepada Rubio bahwa Jepang tidak pantas masuk dalam daftar negara yang dikenai tarif resiprokal," ujar Iwaya, dikutip dari Reuters, Minggu (16/2/2025).
Selain itu, Jepang juga menyoroti tarif 25% yang akan dikenakan AS terhadap impor baja dan aluminium. Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, industri manufaktur Jepang bisa mengalami peningkatan biaya produksi yang cukup signifikan.
Seperti yang diketahui, Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan rencana penerapan tarif resiprokal terhadap beberapa mitra dagang.
Menurutnya, kebijakan perdagangan global selama ini lebih menguntungkan negara lain dibanding AS.
Trump juga sering mengkritik surplus perdagangan Jepang dengan AS serta melemahnya nilai yen yang dinilai memberikan keuntungan lebih bagi Jepang.
Bahkan, dalam beberapa kesempatan, ia menyebut Jepang dan Korea Selatan sebagai negara yang mengambil keuntungan dari kebijakan perdagangan AS.
Dengan kondisi ini, Jepang kini harus melakukan diplomasi yang lebih agresif untuk melindungi kepentingan ekonominya.
Menteri Perdagangan Jepang, Yoji Muto, mengatakan bahwa pemerintah telah mulai berkomunikasi dengan Washington untuk membahas permasalahan tarif ini lebih lanjut.
"Kami tidak tinggal diam. Kami akan terus berdiskusi dengan AS untuk mencari solusi terbaik agar ekonomi Jepang tetap stabil," ungkap Muto.
Jika AS tetap menerapkan tarif ini, beberapa sektor industri di Jepang bisa terkena dampak langsung. Biaya ekspor produk ke AS akan meningkat, yang dapat mengurangi daya saing produk Jepang di pasar global.
Selain itu, industri otomotif Jepang salah satu penyumbang terbesar bagi ekonomi negara bisa mengalami penurunan penjualan akibat tarif yang lebih tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








