Siklus Libur Panjang Nataru, Permintaan Impor Bahan Baku Oleh Dunia Usaha Melambat di Januari 2025
Demi Ermansyah | 17 Februari 2025, 17:19 WIB

AKURAT.CO Awal tahun biasanya menjadi momen yang cukup santai bagi dunia industri, terutama karena masih ada sisa libur panjang natal dan tahun baru atau nataru yang berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi.
Hal ini terbukti dari data yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Dimana dalam laporan terbaru tersebut, BPS mencatat impor Indonesia pada Januari 2025 turun 15,18% dibandingkan bulan sebelumnya, dengan nilai mencapai USD18 miliar.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa penurunan ini memang biasa terjadi di awal tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah banyaknya hari libur, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada akhir Januari.
"Sebagian minggu di bulan Januari ini masih masuk dalam masa libur," kata Amalia dalam konferensi pers bersama media di Jakarta, Senin (17/2/2025).
Akibatnya, lanjut Amalia, banyak aktivitas industri belum kembali berjalan 100%, yang berdampak langsung pada permintaan bahan baku dan barang impor lainnya.
Akibatnya, lanjut Amalia, banyak aktivitas industri belum kembali berjalan 100%, yang berdampak langsung pada permintaan bahan baku dan barang impor lainnya.
Tak hanya industri manufaktur yang terkena dampak, sektor migas juga mengalami perlambatan cukup signifikan. Impor migas turun 24,69% menjadi USD814,1 juta.
Penurunan terbesar terjadi pada minyak mentah yang merosot 38,84% menjadi USD349,9 juta, sementara impor hasil minyak turun 19,37% menjadi USD464,2 juta.
Di sisi lain, impor nonmigas juga mengalami penurunan sebesar 13,43%, dengan total transaksi sebesar USD2,41 miliar. Jika dibandingkan dengan Januari 2024, angka ini turun 2,67% atau sekitar USD494,3 juta.
Di sisi lain, impor nonmigas juga mengalami penurunan sebesar 13,43%, dengan total transaksi sebesar USD2,41 miliar. Jika dibandingkan dengan Januari 2024, angka ini turun 2,67% atau sekitar USD494,3 juta.
Meski ada penurunan impor, lanjut Amalia, China tetap menjadi pemasok terbesar barang nonmigas bagi Indonesia. Selama Januari 2025, nilai impor dari China mencapai USD6,34 miliar atau sekitar 40,86% dari total impor nonmigas.
"Kemudian di urutan kedua ada Jepang dengan nilai impor USD1,15 miliar atau sekitar 7,42%, disusul oleh Amerika Serikat dengan capaian nilai USD0,76 miliar atau sebesar 4,92 persen.
Selain itu, impor nonmigas dari ASEAN juga cukup besar, yaitu USD2,39 miliar atau sekitar 15,41%, sementara dari Uni Eropa mencapai USD0,87 miliar atau sekitar 5,60%.
Selain itu, impor nonmigas dari ASEAN juga cukup besar, yaitu USD2,39 miliar atau sekitar 15,41%, sementara dari Uni Eropa mencapai USD0,87 miliar atau sekitar 5,60%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









