Kepala Bappenas Sebut Kebijakan Inovatif, Adaptif dan Berbasis Data Kunci Raih Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia membidik pertumbuhan ekonomi 8 persen. Namun ini bukan hal yang mudah, diperlukan langkah-langkah kebijakan yang lebih inovatif, adaptif, dan berbasis data.
Demikian disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy.
Menurutnya, di antara tantangan yang akan dihadapi Indonesia adalah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi, lonjakan inflasi, gangguan rantai pasokan, serta kebijakan ekonomi dari negara-negara besar seperti AS yang menambah kerumitan bagi perekonomian Indonesia.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya kebijakan yang didasarkan pada data yang akurat serta responsif terhadap perubahan yang ada.
Ditambahkan, mengadopsi kebijakan berbasis data bukan hanya sebuah pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan perekonomian Indonesia terus tumbuh meskipun menghadapi tantangan global.
Baca Juga: Bappenas Kena Efisiensi Anggaran Rp1 Triliunan
Sebagai bagian dari upaya untuk menemukan solusi, Bappenas mengundang Profesor Ricardo Hausmann, seorang pakar pembangunan ekonomi dan mantan Menteri Perencanaan Venezuela.
Pada 2017, Ricardo Hausmann pernah mengunjungi Indonesia untuk memberikan kuliah umum mengenai pendekatan baru dalam strategi pembangunan nasional.
Berangkat dari temuan tersebut, Indonesia menyusun strategi pembangunan yang lebih fokus pada pengurangan hambatan regulasi dan peningkatan efisiensi kelembagaan.
Salah satu langkah konkret yang akan ditempuh adalah melalui kerangka strategi 8 plus 1, yang berfokus pada delapan bidang utama untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pentingnya pengembangan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, transformasi digital, serta investasi yang berorientasi ekspor dan investasi non-APBN juga menjadi bagian integral dari strategi ini.
Tidak hanya sektor ekonomi yang diprioritaskan, Rachmat juga menekankan pentingnya kebijakan pendukung, seperti deregulasi perizinan yang dapat memperlancar proses bisnis dan investasi.
Dalam makalah yang dibawakan Profesor Hausmann, ia menyebutkan bahwa setiap negara memiliki peluang unik untuk mengembangkan keunggulan komparatifnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








