BI Suntik Rp80 Triliun, Program 3 Juta Rumah Dijamin Lancar!

AKURAT.CO Pemerintah terus mengupayakan berbagai cara agar program pembangunan tiga juta rumah per tahun bisa berjalan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dimana salah satu langkah yang diambil adalah menggandeng Bank Indonesia (BI) untuk memberikan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) kepada perbankan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan kelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 5%, yang berpotensi menambah likuiditas hingga Rp80 triliun khusus untuk sektor perumahan.
“Dengan tambahan likuiditas ini, perbankan bisa lebih leluasa dalam menyalurkan pembiayaan untuk program pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” ujar Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis malam (20/2/2025).
Baca Juga: Lebaran 2025, BI Siapkan Uang Tunai Rp180,9 Triliun
Tak hanya itu, BI juga siap membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder sebagai salah satu upaya mendukung pembiayaan sektor perumahan.
Langkah ini diyakini bisa memberikan fleksibilitas bagi pemerintah dalam mengelola anggaran tanpa mengganggu stabilitas fiskal.
Perry menekankan bahwa sektor perumahan punya dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Bukan cuma memberikan tempat tinggal bagi masyarakat, pembangunan rumah juga menggerakkan banyak sektor industri lainnya, mulai dari semen, baja, kayu, hingga tenaga kerja konstruksi.
“Setiap rumah yang dibangun itu bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga mendukung lapangan pekerjaan dan perekonomian secara luas,” tambahnya.
Baca Juga: BI Rate Ditahan di 5,75 Persen pada Februari 2025
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, juga memastikan bahwa pembiayaan program ini tidak akan membebani APBN secara langsung. Sebaliknya, skema pendanaan yang digunakan akan memanfaatkan likuiditas dari berbagai sumber, salah satunya dari BI.
“Kita siapkan skema likuiditas khusus yang tetap sesuai aturan, jadi program ini bisa berjalan tanpa membebani anggaran negara,” kata Misbakhun.
Sebagai bagian dari visi pemerintahan Prabowo-Gibran, program pembangunan tiga juta rumah per tahun akan dibagi menjadi dua juta rumah di pedesaan dan satu juta rumah di perkotaan.
Demi mencapai target ini, pemerintah akan mengoptimalkan berbagai skema pembiayaan, termasuk melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan penerbitan SBN khusus sektor perumahan.
Dengan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan sektor perbankan, program Astacita diharapkan bisa berjalan lancar dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







