Perang Dagang AS-China Memanas, Pasar Pangan Global Ikut Terguncang

AKURAT.CO Ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali meningkat, dimana kali ini sektor pangan ikut terkena imbasnya.
Mengutip dari laman bloomberg, China dikabarkan sedang mempertimbangkan langkah balasan terhadap tarif impor yang diterapkan pemerintahan Donald Trump, dengan menyasar produk pertanian dan pangan dari AS.
Jika benar terjadi, langkah ini tak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga bisa mengguncang pasar pangan global.
Disebutkan, salah satu sektor yang paling cepat merasakan dampaknya adalah pasar kedelai. China, sebagai importir terbesar kedelai dunia, mulai mengalami lonjakan harga hingga 1,5% akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari AS.
Baca Juga: Perang Dagang Kian Memanas! Ini Strategi China Hadapi Tekanan Tarif Tinggi AS
Padahal, kedelai adalah bahan utama untuk minyak goreng dan pakan ternak, terutama untuk industri peternakan babi yang besar di China.
Jika ketegangan ini terus berlanjut, harga pakan ternak bisa semakin mahal, yang berpotensi menaikkan harga daging di pasar global.
Negara-negara yang bergantung pada ekspor pangan AS atau impor dari China pun bisa terkena dampak lanjutan.
Tidak hanya itu saja, beberapa waktu lalu peemerintahan Trump kembali mengeluarkan kebijakan tarif baru.
Dimana Trump berjanji akan menaikkan tarif impor terhadap China hingga 20% sekaligus memberlakukan tarif tambahan bagi Kanada serta Meksiko mulai hari ini (4/3/2025).
Tentunya langkah tersebut semakin memperkeruh situasi dan menambah ketidakpastian bagi pasar global.
Baca Juga: Hiraukan Tekanan Tarif AS, Aktivitas Manufaktur China Kembali Tumbuh
Menanggapi kebijakan ini, juru bicara Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa pihaknya akan membalas dengan segala cara yang diperlukan untuk mempertahankan hak dan kepentingannya yang sah.
Hal ini mengindikasikan bahwa China bisa saja mencari sumber pasokan baru atau menerapkan strategi dagang lainnya untuk mengurangi ketergantungan pada AS.
Akibat memanasnya hubungan China AS, mampu memberikan multiplier effect terhadap hubungan bilateral, tetapi juga bisa menggoyang pasar pangan global.
Bahkan negara-negara yang mengandalkan pasokan kedelai dari AS bisa mulai mencari alternatif lain, seperti Brasil atau Argentina. Sementara itu, eksportir dari negara lain bisa mengambil keuntungan dari situasi ini dengan menawarkan produk mereka ke China.
Di sisi lain, industri pangan di negara berkembang bisa mengalami tekanan akibat fluktuasi harga bahan baku. Jika harga kedelai melonjak, maka harga produk turunannya seperti minyak goreng dan daging bisa ikut naik, yang berujung pada inflasi pangan di berbagai negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









