Menelaah Tekanan Trump Terhadap Ukraina, Antara Kesepakatan Dagang atau Diplomasi Perang

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali menjadi pusat perbincangan dunia pasca dirinya disebut-sebut mengkaitkan kesepakatan perdagangan mineral dengan Ukraina dengan tuntutan gencatan senjata antara Kyiv dan Moskow.
Dimana sejumlah pejabat Eropa yang mengetahui perkembangan tersebut mengungkapkan bahwa kesepakatan ini masih tertunda karena syarat tambahan yang diajukan Trump.
Mengutip dari laman New York Times Washington sebenarnya telah memberikan sinyal positif terhadap perjanjian terkait sumber daya alam.
Namun, Trump lagi-lagi kembali menuntut adanya komitmen nyata dari Ukraina untuk menghentikan pertempuran dan membuka jalur negosiasi dengan Rusia.
“Saya pikir Ukraina ingin mencapai kesepakatan karena mereka tidak punya pilihan. Terlebih lagi, saya juga yakin Rusia ingin mencapai kesepakatan tentunya dengan metode yang berbeda pula, intinya yang hanya saya ketahui mereka (berdua) juga tidak punya pilihan lain," ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Namun, hingga kini belum ada kejelasan apakah Moskow bersedia menerima gencatan senjata yang diusulkan Trump.
Baca Juga: Inggris dan Prancis Susun Rencana Perdamaian untuk Ukraina, Siap Libatkan AS
Kesepakatan yang Tertunda
Sumber dari pejabat Eropa menyatakan bahwa perundingan bisa mengalami kemajuan dalam pertemuan antara pejabat Ukraina dan AS di Arab Saudi pekan depan.
Namun, ada kekhawatiran bahwa Trump bisa sewaktu-waktu mengubah posisinya, mengingat rekam jejaknya yang kerap membuat keputusan secara tidak terduga.
Dalam pertemuan dengan para pemimpin Eropa di Brussel, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy mengajukan rencana perdamaian bertahap, termasuk penghentian serangan udara dan laut.
Namun, langkah tersebut belum cukup untuk memenuhi tuntutan Washington akan penghentian total pertempuran.
Sedangkan disisi lain, langkah AS yang menekan Ukraina untuk bernegosiasi justru dinilai menguntungkan bagi Rusia.
Baca Juga: Pasca Kena Tolak AS, Ukraina Dapat Bantuan IMF Sebesar USD15,5 Miliar
Oleh karena itu, tak sedikit dari para pejabat Eropa khawatir bahwa kebijakan tersebut pada akhirnya hanya akan memaksa Kyiv menerima kesepakatan yang menguntungkan Moskow tanpa ada jaminan keamanan bagi Ukraina.
Sejumlah analis menilai bahwa pendekatan Trump lebih mengutamakan kepentingan ekonomi AS dibanding keamanan jangka panjang Ukraina.
Apalagi, keputusan Washington untuk menghentikan bantuan militer dan intelijen ke Kyiv semakin memperlemah posisi Ukraina dalam negosiasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








