Barat Susun Rencana Perdamaian, Rusia Didesak Stop Serangan

AKURAT.CO Perundingan untuk gencatan senjata di Ukraina kembali menghadapi jalan terjal setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, belum menunjukkan komitmen jelas terhadap usulan penghentian perang.
Meski Presiden AS, Donald Trump, telah mendorong kesepakatan damai, berbagai tuntutan Rusia menjadi kendala besar dalam mencapai solusi nyata.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan bahwa Putin tampaknya hanya ingin mengulur waktu tanpa menunjukkan niat serius untuk berdamai.
"Jika Rusia benar-benar ingin bernegosiasi, maka kita harus siap mengawasi gencatan senjata agar perdamaian bisa terwujud,” ujar Starmer dalam pernyataan resminya dikutip dari laman Bloomberg.
Baca Juga: Tekanan Sanksi Ekonomi Menguat, PM Inggris Tantang Putin Segera Akhiri Perang
Namun, situasi semakin kompleks karena Moskow menuntut agar Ukraina menyerahkan wilayah tertentu, bersikap netral, serta mengurangi kekuatan militernya.
Tuntutan ini dianggap sebagai langkah maksimal yang sulit dipenuhi oleh pihak Ukraina maupun sekutu Barat.
Untuk mengatasi kebuntuan tersebut, sekitar 25 pemimpin dunia menggelar pertemuan virtual pada Sabtu (15/03/2025). Dimana pertemuan tersebut bertujuan membahas opsi pengawasan internasional terhadap setiap potensi perjanjian damai.
Selain itu, negara-negara Barat ingin memastikan bahwa AS tetap memberikan dukungan dalam bentuk pengawasan udara, intelijen, dan pengamanan perbatasan, tanpa harus mengirim pasukan secara langsung ke Ukraina.
Tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri karena Rusia sejak awal menolak kehadiran pasukan dari negara NATO di wilayah Ukraina.
Baca Juga: Kisruh Trump dan Zelensky, Akankah Rusia Diuntungkan?
Tidak sedikit para analis keamanan Barat menilai bahwa Rusia sengaja menetapkan tuntutan tinggi agar memiliki alasan untuk terus melanjutkan perang jika permintaannya tidak terpenuhi.
Meskipun ada tekanan dari berbagai pihak, proses negosiasi masih jauh dari kata selesai. Ukraina sendiri menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerahkan kedaulatan atau wilayahnya kepada Rusia.
Sementara itu, Barat mencoba mencari jalan tengah agar perundingan tetap bisa berlangsung.
Starmer menegaskan bahwa dunia tidak boleh hanya menunggu janji-janji kosong dari Putin.
"Dunia membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







