Ekonomi AS Aman? Menkeu Scott Bessent Blak-blakan Soal Resesi!

AKURAT.CO Ekonomi Amerika Serikat kembali menjadi sorotan pasca Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa kondisi ekonomi saat ini masih kuat.
Dalam wawancaranya dengan Maria Bartiromo di Fox Business, Bessent menolak memberikan kepastian bahwa pelemahan ekonomi tidak akan terjadi.
"Saya tidak bisa menjamin apa pun, sebab pertanyaan soal itu (resesi) adalah hal yang konyol," ujarnya.
Baca Juga: Bos BI: Investor Mulai Beralih ke Obligasi dan Emas Imbas Kebijakan Trump
Pasca pernyataan tersebut, tentu menimbulkan tanda tanya di kalangan ekonom dan pelaku pasar. Disatu sisi, Bessent optimistis dengan fundamental ekonomi AS.
Namun, di sisi lain, ia tidak menampik bahwa ada potensi perlambatan ekonomi akibat kebijakan pemerintah, terutama terkait tarif dan investasi luar negeri.
Bessent menyebut bahwa data transaksi kartu kredit dan perbankan menunjukkan fundamental ekonomi yang solid. Namun, dirinya juga mengakui kemungkinan adanya jeda dalam pertumbuhan ekonomi, terutama ketika AS mulai mengurangi ketergantungan pada belanja pemerintah.
"Pemerintahan Presiden Donald Trump akan terus berkomitmen mengendalikan pengeluaran dan mengembalikan industri manufaktur ke dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya hidup bagi masyarakat pekerja di AS," ucapnya.
Baca Juga: Trump Perketat Tarif Impor, Perang Dagang dengan Eropa Semakin Memanas
Meskipun begitu, tidak sedikit dari para ekonom skeptis, sebab kebijakan tarif timbal balik yang akan diumumkan pada 2 April 2025 dianggap sebagai faktor yang dapat memperlambat ekonomi.
Hingga pada akhirnya mitra dagang AS mungkin akan dikenakan tarif tinggi, yang berpotensi memicu retaliasi dari negara lain dan menurunkan daya saing perusahaan AS di pasar global.
Tak hanya soal tarif, Bessent juga menegaskan bahwa Departemen Keuangan AS tengah bekerja sama dengan Kongres untuk membatasi investasi AS ke China.
"Tentunya ini merupakan kelanjutan dari kebijakan Presiden Joe Biden pada 2024 yang mewajibkan penyaringan terhadap investasi AS ke China," tegas Bessent.
Bagi sebagian pihak, kebijakan ini bisa menjadi langkah strategis untuk melindungi kepentingan nasional AS. Namun, bagi pelaku usaha dan investor, pembatasan investasi ke luar negeri bisa berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









