Efek Domino Tarif Trump, Inflasi Melejit, Ekspor-AS Diprediksi Anjlok Hingga 2026

AKURAT.CO Kebijakan tarif agresif Presiden Donald Trump terhadap mitra dagang utama, khususnya China, membawa efek domino yang diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa tahun ke depan.
Survei Bloomberg terhadap 82 ekonom menunjukkan bahwa lonjakan tarif mengakibatkan proyeksi ekspor Amerika Serikat (AS) melemah hingga tahun 2026.
Menurut hasil survei, negara-negara seperti China telah memberlakukan tarif balasan atas produk-produk AS, membuat barang-barang asal Amerika menjadi lebih mahal dan kurang kompetitif di pasar global. Hal ini dinilai memperburuk kinerja perdagangan luar negeri AS yang selama ini menjadi penopang penting bagi perekonomian.
"Impor memang melonjak 19,2% pada kuartal pertama karena perusahaan-perusahaan bergegas menghindari bea masuk tinggi, namun dalam jangka panjang, ekspor AS diproyeksikan turun," ungkap laporan Bloomberg Economics.
Baca Juga: Prabowo Masih Menanti Pertemuan dengan Donald Trump, Bahas Kebijakan Tarif AS
Selain tekanan pada ekspor, tarif tinggi juga menyebabkan inflasi domestik meningkat. Para ekonom memprediksi indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) akan mencapai 3,2% pada akhir 2025, sementara tingkat inflasi inti tidak termasuk harga makanan dan energi diperkirakan mencapai 3,3%.
"Inflasi tampaknya naik, tetapi tidak seekstrem lonjakan yang terjadi pada 2022," kata ekonom dari Comerica Bank, Bill Adams dan Waran Bhahirethan.
Kenaikan inflasi ini menjadi hambatan besar bagi Federal Reserve (The Fed) untuk melakukan pemangkasan suku bunga, yang biasanya menjadi alat utama dalam mendorong pertumbuhan saat ekonomi melambat.
Dana Moneter Internasional (IMF) turut mengingatkan bahwa tarif yang terus diberlakukan AS bisa memperburuk perlambatan ekonomi global. IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan dunia dan meminta negara-negara besar untuk menahan diri dari eskalasi perang dagang lebih lanjut.
Baca Juga: Donald Trump Sebut 4 Pihak Minat Akuisisi TikTok, Siapa Saja?
Sementara itu, pasar tenaga kerja AS diperkirakan akan mulai menunjukkan pelemahan moderat, dengan rata-rata penambahan gaji sebanyak 72.000 hingga 100.000 per bulan selama tahun ini dan tahun depan. Tingkat pengangguran diproyeksikan naik menjadi 4,6% pada akhir 2025.
Sebagai informasi, Biro Analisis Ekonomi akan merilis data awal PDB kuartal pertama pada 30 April, yang diantisipasi banyak pihak sebagai indikasi awal seberapa besar dampak kebijakan tarif terhadap pertumbuhan AS ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









