Harga Konsumen China Turun Lagi, Perang Dagang Perburuk Deflasi

AKURAT.CO Tekanan deflasi terus membayangi perekonomian China. Untuk ketiga kalinya berturut-turut, indeks harga konsumen (CPI) negara tersebut mencatat penurunan pada April 2025 sebesar 0,1% dibandingkan tahun sebelumnya.
Tren ini terjadi di tengah lonjakan tarif tinggi dari Amerika Serikat serta lemahnya permintaan domestik yang kian mengkhawatirkan.
Dikutip dari laman bloomberg, penurunan CPI China sebesar 0,1% yang sejajar dengan penurunan pada Maret 2025 menunjukkan tekanan deflasi yang berkepanjangan di tengah gejolak perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia.
Namun, di balik angka tersebut tersimpan kekhawatiran yang lebih dalam. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menerapkan tarif hingga 145% terhadap sebagian besar ekspor China. Langkah ini mendorong Pemerintah China untuk melakukan pembalasan serupa, menandai eskalasi baru dalam perang dagang kedua negara.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Ketidakpastian Ekonomi AS Meningkat Akibat Tarif
Kondisi tersebut tidak hanya menyumbang pada tekanan harga, tetapi juga memaksa sejumlah produsen China mengalihkan produk ekspornya ke pasar domestik.
Akibatnya, persaingan internal semakin ketat dan banyak produsen terpaksa menurunkan harga lebih lanjut untuk bersaing.
Selain harga konsumen, sektor industri China juga terpukul. Indeks harga produsen (PPI) mengalami penurunan selama 31 bulan berturut-turut. Pada April, PPI turun sebesar 2,7% dibandingkan tahun sebelumnya, lebih dalam dari penurunan 2,5% pada Maret. Penurunan ini menunjukkan lemahnya permintaan bahan baku dan tekanan terhadap margin keuntungan manufaktur.
Lebih jauh, deflator Produk Domestik Bruto (PDB) indikator umum inflasi dalam perekonomian terus menurun selama delapan kuartal berturut-turut. Ini adalah periode penurunan terpanjang sejak data triwulanan mulai dikumpulkan pada 1993.
Menurut pakar ekonomi dari Bloomberg Economics, David Qu, kebijakan stimulus domestik yang diluncurkan sejak kuartal IV tahun lalu belum menunjukkan hasil berarti.
"Oleh sebab itu peningkatan dukungan fiskal secara cepat sangatlah prioritas terutama bila negosiasi dagang dengan AS tidak berhasil meredakan ketegangan tarif," paparnya.
Baca Juga: Trump Tolak Turunkan Tarif Impor China, De-eskalasi Perang Dagang Terancam Mandek
Lebih lanjut, David juga menjelaskan bahwasanya, kondisi ketidakpastian tersebut juga berdampak langsung terhadap konsumen. Hilangnya lapangan kerja akibat penurunan ekspor, ditambah tekanan harga, menyebabkan penurunan pendapatan dan daya beli.
Produsen dan penyedia jasa pun makin terdorong untuk memangkas harga demi mempertahankan konsumsi, yang justru memperburuk deflasi.
"Meskipun, saat ini pemerintah China telah mengumumkan beberapa langkah penopang ekonomi, termasuk memangkas suku bunga acuan dan menurunkan rasio cadangan wajib bagi bank. Namun, upaya-upaya tersebut belum terlalu cukup untuk membalikkan arah tren deflasi jika tidak dibarengi dengan strategi yang menyasar sektor riil dan rumah tangga," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026






