KTT ASEAN Digelar, Malaysia Ingin Redam Ketegangan AS-China

AKURAT.CO Malaysia menyatakan kesiapannya untuk memainkan peran kunci dalam menjembatani ketegangan global antara negara-negara besar, di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
Sebagai Ketua ASEAN 2025, Malaysia akan menjadi tuan rumah KTT penting yang mempertemukan negara-negara Asia Tenggara, China, dan negara-negara Timur Tengah.
Merespon hal tersebut, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim mengatakan bahwa negaranya akan tetap konsisten mengedepankan kebijakan luar negeri yang mandiri dan berimbang.
Hal itu ditegaskan menjelang pertemuan puncak ASEAN yang akan digelar pekan depan di Kuala Lumpur dan akan dihadiri oleh Perdana Menteri China, Li Qiang.
Baca Juga: Ekonom Sebut Sektor Manufaktur Ini Paling Terdampak Tarif Trump
“Kami menyambut kehadiran semua pihak, baik dari Timur maupun Barat. Ini adalah komitmen kami sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan kerjasama lintas kawasan,” ujar Anwar dalam konferensi pers di Putrajaya.
Dalam posisi strategis sebagai Ketua ASEAN, Malaysia berambisi memperkuat peran kawasan sebagai kekuatan sentral dalam tatanan global yang multipolar.
Meski baru-baru ini menjadi sorotan atas pengumuman pembangunan sistem kecerdasan buatan berbasis chip Huawei yang belakangan dibantah sebagai inisiatif pemerintah, Malaysia menegaskan kembali komitmen pada prinsip keterbukaan dan transparansi.
"Kami ingin semua investasi, baik dari Barat maupun Timur, selaras dengan kepentingan nasional kami. Tidak ada intervensi atau dominasi dari pihak mana pun," tegas Anwar.
Baca Juga: Begini Tanggapan The Fed Soal Penurunan Tarif Trump Untuk China
Washington diketahui tengah memperhatikan aktivitas teknologi tinggi Malaysia, terutama yang melibatkan perusahaan seperti Huawei yang masuk dalam daftar hitam AS. Meski demikian, Anwar meyakinkan bahwa segala bentuk kerjasama akan tetap berada dalam koridor kebijakan nasional yang otonom.
Dengan komitmen tersebut, Malaysia ingin menjadikan ASEAN sebagai platform dialog yang mampu meredam tensi global serta menciptakan jalur baru kerja sama antara kekuatan besar dunia dan negara-negara berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








