China Gunakan Jalur Diplomatik Tekan AS Jelang Pilpres 2024

AKURAT.CO China mulai menunjukkan strategi diplomatik yang lebih terbuka dalam menekan Amerika Serikat, menjelang Pilpres AS 2025. Hal ini tampak dalam pertemuan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dengan Duta Besar AS yang baru, David Perdue, di Beijing.
Dalam pertemuan perdana itu, Wang Yi mengkritik kebijakan Washington yang disebutnya merugikan kepentingan sah China.
Beijing menilai sejumlah langkah AS, seperti pembatasan ekspor teknologi dan pengetatan visa, sebagai upaya sistematis untuk mengekang kemajuan ekonomi dan teknologi Negeri Tirai Bambu.
“Langkah-langkah ini tidak berdasar dan merusak kepercayaan strategis,” ucap Wang dikutip dari laman reuters.
Baca Juga: Ekspor L-Tryptophan ke China Capai Rp15 M, Mendag Apresiasi PT CJI
Pertemuan itu tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan keluhan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi tekanan yang disusun Beijing di tengah ketidakpastian arah kebijakan luar negeri AS, terutama menjelang pemilu presiden.
David Perdue, yang dikenal dekat dengan Donald Trump, menjadi kunci dalam komunikasi strategis antara kedua negara.
Melalui platform X, Perdue menyampaikan bahwa ia telah menegaskan prioritas pemerintahan Trump, termasuk isu perdagangan, fentanyl, dan imigrasi. Ia menekankan pentingnya komunikasi bilateral yang terbuka dan berkelanjutan.
Sementara itu, dari sisi AS, terdapat narasi berlawanan. Pemerintah AS menuduh China tidak konsisten dalam menjalankan komitmen dagang. Salah satunya terkait dengan lambatnya ekspor mineral penting yang dibutuhkan industri teknologi tinggi di AS.
Baca Juga: PMI Manufaktur China Anjlok, Tekanan Ekonomi Semakin Menguat
Pernyataan Donald Trump, yang berharap dapat kembali berdialog langsung dengan Presiden Xi Jinping, mengisyaratkan adanya peluang pertemuan tingkat tinggi. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi terkait rencana tersebut.
Langkah China memanfaatkan jalur diplomatik untuk mengimbangi tekanan ekonomi AS menunjukkan perubahan pendekatan yang lebih frontal. Menjelang Pilpres AS, dinamika ini akan menjadi ujian penting bagi stabilitas hubungan bilateral dan peta geopolitik global ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










