Trump Kembali Desak The Fed untuk Pangkas Suku Bunga Hingga 1%

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menekan Federal Reserve untuk segera memangkas suku bunga sebesar satu poin persentase. Lewat unggahan di media sosial pada Jumat (6/6/2025), Trump bahkan melontarkan ejekan terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, dan mengisyaratkan akan segera menunjuk penggantinya.
"Lambat Kinerja The Fed, ini adalah bencana! Meski karena dia (Jerome Powell) negara kita baik-baik saja. Tapi segera turunkan satu poin penuh, Rocket Fuel!" tulis Trump, merujuk pada Powell dengan julukan yang kerap ia gunakan untuk menyindir.
Dikutip dari laman reuters, pernyataan tersebut muncul menjelang pertemuan penting The Fed pada 17–18 Juni mendatang. Mayoritas analis memperkirakan bank sentral AS tidak akan mengubah suku bunga acuan yang telah ditahan sepanjang tahun ini, seiring masih tingginya tekanan inflasi.
Baca Juga: Pasar Tenaga Kerja AS Melemah, The Fed Diminta Waspada Dampak Tarif
Trump telah lama mengkritik pendekatan Powell yang dianggap terlalu hati-hati. Dalam wawancara di Air Force One, Trump mengaku sedang mempertimbangkan calon baru untuk menggantikan Powell, meski masa jabatan sang Ketua The Fed baru berakhir pada Mei 2026.
"Ini akan segera diumumkan," ujarnya kepada wartawan.
Desakan agar suku bunga dipotong satu poin penuh tergolong tidak biasa, kecuali dalam kondisi krisis ekonomi. Terakhir kali The Fed menurunkan suku bunga sebesar itu adalah pada Maret 2020, saat pandemi Covid-19 memicu resesi global.
Trump beralasan pemangkasan bunga diperlukan karena tingkat inflasi kini lebih terkendali. Namun, data terbaru justru menunjukkan ekonomi AS tetap tangguh, dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,2% dan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih baik dari perkiraan.
Baca Juga: Ketidakpastian Tarif Bayangi Ekonomi AS, The Fed Pilih Wait and See
The Fed saat ini menargetkan inflasi 2% dalam jangka panjang dan cenderung menahan suku bunga untuk mencegah gejolak harga. Penurunan yang terlalu cepat berisiko memicu lonjakan inflasi baru.
Kritik Trump juga menyoroti meningkatnya biaya pinjaman pemerintah, yang menurutnya seharusnya jauh lebih rendah. Saat ini, rata-rata bunga utang pemerintah AS mencapai 3,36%, tertinggi sejak 1996.
Meski menjanjikan pengendalian defisit, Trump dan Partai Republik menghadapi tantangan besar. RUU pajak yang mereka dorong justru dinilai akan meningkatkan beban bunga utang, dengan proyeksi tambahan biaya hingga USD551 miliar dalam satu dekade, menurut Badan Anggaran Kongres (CBO).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







