Rencana Tarif Trump Berpotensi Dorong Inflasi Global dan Tekan Pasar Keuangan

AKURAT.CO Pasar keuangan global bergerak hati-hati menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan kembali rencana pengenaan tarif impor unilateral dalam waktu dekat.
Hal ini terjadi bersamaan dengan rilis data inflasi AS untuk bulan Mei 2025 yang mencatat kenaikan 0,1% secara bulanan, di bawah ekspektasi pasar.
Namun, perhatian pasar justru lebih tertuju pada potensi risiko lanjutan dari kebijakan tarif yang digulirkan Trump. Dalam pernyataannya, Trump menyebut akan mengirim surat kepada negara-negara mitra dagang AS dengan rincian tarif baru dalam skema take it or leave it. Rencana ini dikhawatirkan memicu eskalasi tensi dagang global menjelang tenggat waktu 9 Juli mendatang.
Baca Juga: Pasokan Turun, Volume Transaksi Bitcoin Global Susut 1,56 Persen Jadi USD3,4 Triliun
Ekonom menilai efek tarif belum sepenuhnya tercermin dalam inflasi saat ini karena banyak peritel masih menjual stok lama. Namun, dampaknya diperkirakan akan muncul secara bertahap dan mendorong inflasi lebih tinggi.
“Efek lanjutan akan terasa dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika tarif benar-benar diterapkan,” ujar Analis Reku, Fahmi Almuttaqin melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (12/6/2025).
Lebih lanjut Fahmi memaparkan bahwa dampak dari kondisi ini mulai terlihat di pasar, dengan Bitcoin melemah 1,60% menjadi USD107 ribu, sementara Ethereum terkoreksi 1,32% di level USD2.700.
Sementara itu, pasar saham AS bergerak relatif stabil dengan koreksi minor dengan indeks S&P 500 turun 0,3%, Nasdaq melemah 0,5%, dan Dow Jones bergerak nyaris datar.
Baca Juga: Bitcoin Tembus USD110.000, Transaksi Pasar Domestik Meroket
Dengan inflasi tahunan berada di angka 2,4% dan inflasi inti mencapai 2,8%, The Fed diperkirakan belum akan mengubah suku bunga dalam waktu dekat. Namun, potensi inflasi yang lebih tinggi akibat kebijakan dagang menjadi ancaman tersendiri.
“Jika inflasi naik terlalu cepat, kebijakan moneter The Fed bisa menjadi semakin hati-hati. Sebab saat ini para investor kini memposisikan diri lebih konservatif, menimbang strategi jangka panjang dan pengelolaan risiko, apalagi di tengah volatilitas, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dan diversifikasi aset menjadi alternatif untuk menjaga stabilitas portofolio," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








