Sanksi Bank dan Perusahaan China, Uni Eropa Picu Ancaman Balasan Beijing

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik antara Uni Eropa dan China kembali meningkat setelah putaran terbaru sanksi Uni Eropa memasukkan dua bank dan lima perusahaan asal China ke dalam daftar lembaga yang membantu Rusia menghindari embargo internasional.
Langkah ini disambut keras oleh Beijing yang menegaskan akan mengambil tindakan balasan demi melindungi kepentingan nasionalnya.
Dikutip dari laman bloomberg, langkah Uni Eropa diumumkan beberapa waktu lalu sebagai bagian dari sanksi lanjutan terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina yang telah memasuki tahun ketiga.
Dua bank China yang terkena sanksi adalah Heihe Rural Commercial Bank Co dan Heilongjiang Suifenhe Rural Commercial Bank Co, yang menurut Dewan Eropa, terlibat dalam layanan transaksi berbasis mata uang kripto yang merusak efektivitas sanksi terhadap Moskwa.
Baca Juga: Diversifikasi Pasar Kunci Atasi Tarif Trump, Uni Eropa Potensial
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin (21/7) lalu, Kementerian Perdagangan China mengecam keras keputusan Uni Eropa tersebut.
"Sanksi ini telah secara serius merusak hubungan ekonomi dan keuangan antara China dan Eropa. Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan kami," tulis pernyataan tersebut.
Sanksi terhadap bank-bank China ini menandai pertama kalinya Uni Eropa secara langsung menargetkan sektor keuangan China sejak perang Rusia–Ukraina meletus pada Februari 2022.
Meski bukan bagian dari blok Barat, China selama ini menjalin hubungan ekonomi erat dengan Rusia, terutama dalam sektor energi dan ekspor strategis.
Secara tidak langsun langkah Uni Eropa ini memperbesar risiko konflik dagang baru, menyusul ketegangan serupa yang sebelumnya terjadi antara China dan Amerika Serikat. AS diketahui telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah bank dan perusahaan China karena dituding mendukung upaya militer Rusia.
Baca Juga: Samsung Ungguli iPhone dalam Tes Daya Tahan Baterai Versi Uni Eropa
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Renmin, Prof. Zhang Weiwei, menyebut bahwa langkah Uni Eropa berisiko memperburuk fragmentasi ekonomi global.
"Jika China membalas dengan sanksi serupa atau pembatasan dagang, ini bisa memperdalam perpecahan antara negara-negara besar dunia, terutama dalam sektor teknologi dan keuangan," ucapnya.
Tidak hany itu saja, lanjut Zhang, ketegangan ini juga diperkirakan akan berdampak pada bisnis lintas negara, mengingat perusahaan-perusahaan China dan Eropa memiliki hubungan dagang yang erat, terutama dalam rantai pasok teknologi tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








