Soroti Pembelian Boeing, Rieke Desak Pemerintah Renegosiasi Tarif Trump

AKURAT.CO Anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Dyah Pitaloka, desak pemerintah untuk negosiasikan kembali besaran angka tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat.
Rieke berharap, akan adanya renegosiasi terkait empat syarat yang diberikan AS untuk relaksasi tarif ekspor dari 32% ke 19%.
"Saya kira terkait tarif ini masih bisa terjadi renegosiasi. Harus bisa dikomunikasikan, disinergikan dari empat kesepakatan tadi bagaimana ada negosiasi," jelas Rieke dalam rapat kerja Komisi VI dengan Menteri BUMN dan RDP dengan Kepala Badan Pelaksana Danantara, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (23/07/2025)
Baca Juga: Komisi VI Minta Danantara Kelola Dividen Secara Transparan dan Akuntabel
Sebelumnya dalam rangka relaksasi tarif resiprokal Amerika Serikat ke Indonesia, pemerintah Amerika Serikat memberikan empat syarat terhadap Indonesia. Syarat tersebut yaitu berkomitmen untuk membeli energinAS senilai USD15 miliar, produk pertanian Amerika senilai USD4,5 miliar, dan 50 pesawat Boeing Jet, banyak di antaranya adalah 777.
Rieke menganggap empat syarat tersebut dalam beberapa poin, misalnya terkait syarat pembelian pesawat boeing, masih perlu dikaji ulang. Dirinya memaparkan bagaimana kondisi di lapangan terkait pesawat Boeing yang pada kenyataannya banyak bermasalah.
"Padahal kita tahu kemarin dalam diskusi kita bahwa pembelian (pesawat) boeing dan bombardir oleh BUMN Garuda menyebabkan masalah keuangan yang sampai sekarang dampaknya. Membeli 737 max itu kan di-grounded ya dan 787 dreamliner itu juga bermasalah, maka Boeing mana yang harus dibeli? Sementara orang lain menolak Boeing. Tapi saya yakin Amerika pasti akan memaksakan karena Boeing itu simbol ekonomi mereka," tutur Rieke.
Baca Juga: Komisi VI Desak Audit BBM, Soroti Kelangkaan hingga Dugaan Oplosan
Dengan kondisi demikian, anggota komisi VI DPR RI ini kembali mempertanyakan bagaimana langkah konkret Kementerian BUMN dan Danantara dalam merespons tarif resiprokal ini.
Terakhir, Rieke juga berharap akan ada renegosiasi dan relaksasi yang pada akhirnya dapat berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









