Kenaikan Biaya Visa H-1B Dinilai Ancam Inovasi dan Daya Saing AS

AKURAT.CO Keputusan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menaikkan biaya aplikasi visa H-1B menjadi USD100.000 (sekitar Rp 1,6 miliar) menuai kritik tajam dari kalangan dunia usaha.
Sejumlah asosiasi industri menilai kebijakan tersebut berpotensi menghambat inovasi dan menurunkan daya saing ekonomi Amerika Serikat di panggung global.
Dalam sebuah surat yang dikirim kepada Presiden Trump pada Jumat (3/10) dikutip dari laman reuters, koalisi yang terdiri atas sekitar selusin kelompok bisnis, termasuk Business Software Alliance dan National Retail Federation, menyampaikan kekhawatiran mereka.
Mereka menilai biaya baru itu akan mempersempit akses terhadap tenaga kerja asing terampil yang selama ini menjadi tulang punggung berbagai sektor strategis.
“Kami meminta pemerintah bekerja sama dengan industri dalam melakukan reformasi yang diperlukan tanpa menambah tantangan signifikan yang sudah dihadapi pemberi kerja dalam merekrut dan mempertahankan talenta terbaik,” tulis koalisi tersebut dalam suratnya.
Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Amazon, dan Walmart selama ini mengandalkan program H-1B untuk memperkuat kompetensi tenaga kerja mereka.
Kebijakan baru tersebut dikhawatirkan akan memperlambat perekrutan talenta global dan berdampak langsung pada sektor-sektor penting seperti kecerdasan buatan (AI) dan rekayasa biomedis.
“Pendekatan baru terhadap visa H-1B akan merugikan tujuan pemerintahan untuk memastikan AS tetap menjadi pemimpin dalam AI dan mendorong pertumbuhan manufaktur,” demikian pernyataan kelompok industri tersebut.
Baca Juga: Donald Trump Berambisi Raih Hadiah Nobel Perdamaian 2025, Pakar Sebut Peluangnya Tipis
Kekhawatiran juga muncul dari industri semikonduktor, dengan anggota seperti Intel, TSMC, dan Samsung menilai pembatasan akses terhadap tenaga kerja global akan memperlebar jarak AS dari negara pesaing dalam perlombaan teknologi.
Meski Gedung Putih menyebut kebijakan ini sebagai langkah untuk mendorong penggunaan talenta domestik, kalangan dunia usaha menilai pembatasan tersebut justru dapat berbalik arah.
Mereka khawatir AS kehilangan daya tariknya bagi talenta global yang menjadi motor penggerak inovasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








