Daya Saing Investasi RI Kalah dari Vietnam, Mari Elka: Perbaiki Konsistensi Kebijakan
Hefriday | 16 Oktober 2025, 16:29 WIB

AKURAT.CO Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menilai pembangunan infrastruktur Indonesia telah menunjukkan kemajuan pesat dalam satu dekade terakhir.
Namun, menurutnya, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam dalam hal menarik investasi asing dan memperdalam rantai pasok industri.
Mari menyoroti bahwa Vietnam berhasil memanfaatkan momentum global untuk menarik investasi dari berbagai negara, termasuk perusahaan besar asal China yang tengah melakukan relokasi industri.
“Vietnam mampu menarik anchor company seperti Intel maupun perusahaan China yang membawa serta rantai pasok industrinya. Itu yang sampai sekarang belum berhasil kita capai,” ujar Mari dalam forum bertajuk “1 Tahun Prabowo–Gibran: Optimism on 8% Economic Growth” di JS Luwansa Hotel & Convention Center, Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Menurut Mari, kesuksesan Vietnam tidak hanya terletak pada insentif investasi yang menarik, tetapi juga kemampuan mereka membangun ekosistem industri yang terintegrasi dengan baik.
Negara tersebut berhasil menumbuhkan pusat manufaktur yang kuat melalui kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan investor global.
Selama setahun terakhir, Vietnam mencatat peningkatan signifikan dalam penanaman modal asing (PMA), khususnya di sektor teknologi, elektronik, dan logistik. Langkah itu membuat posisi Vietnam semakin strategis dalam rantai pasok global.
Mari menilai bahwa Indonesia perlu melakukan reformasi kebijakan yang lebih konsisten dan implementatif agar dapat bersaing di tingkat global. Dirinya menyebut, banyak survei internasional menunjukkan bahwa faktor konsistensi kebijakan dan kepastian regulasi menjadi pertimbangan utama investor.
“Kalau kita berkaca pada Vietnam, hal pertama yang harus kita perbaiki adalah konsistensi dari kebijakan dan implementasi dari peraturan. Itu menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor,” tegas Mari.
Selain masalah regulasi, Mari juga menyoroti perlunya kemampuan pemerintah merespons perubahan global secara cepat dan adaptif.
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, hingga dinamika pasar global menjadi tantangan yang menuntut pemerintah lebih lincah dalam pengambilan kebijakan ekonomi.
“Yang kedua, kita perlu lebih responsif terhadap ketidakpastian seperti yang baru-baru ini kita hadapi. Dunia berubah cepat, dan kebijakan kita harus bisa menyesuaikan,” ujarnya.
Kendati demikian, Mari optimistis bahwa Indonesia memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang bisa menjadi modal kuat dalam menarik investasi, terutama pasar domestik yang besar dan tenaga kerja yang kompetitif.
Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia menawarkan potensi konsumsi dan tenaga kerja produktif yang tidak dimiliki banyak negara di kawasan Asia Tenggara.
Agar potensi besar tersebut dapat dimaksimalkan, Mari menekankan pentingnya koordinasi antar lembaga pemerintah serta kepastian hukum bagi para pelaku usaha. Dirinya menilai, hambatan birokrasi dan ketidakpastian hukum masih menjadi tantangan utama dalam iklim investasi nasional.
“Kita punya pasar besar dan tenaga kerja yang kompetitif, tapi itu tidak akan cukup jika tidak diiringi dengan koordinasi yang kuat antar lembaga serta kepastian hukum yang jelas,” kata mantan Menteri Perdagangan itu.
Mari menambahkan, keberhasilan dalam memperdalam rantai pasok industri tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga kolaborasi aktif antara dunia usaha, pelaku industri, dan lembaga keuangan.
Dirinya menekankan bahwa pemerintah perlu menyediakan regulasi dan infrastruktur pendukung, sementara pelaku swasta harus berani berinvestasi pada sektor yang mendorong nilai tambah domestik.
Lebih jauh, Mari menyambut baik langkah pemerintah dalam mempercepat program hilirisasi industri, yang dinilai dapat memperkuat struktur ekonomi nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa hilirisasi harus dibarengi dengan inovasi teknologi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Hilirisasi penting, tapi jangan berhenti di situ. Kita perlu mendorong inovasi, riset, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar industri kita bisa naik kelas,” ujarnya.
Forum ekonomi tersebut juga menjadi ajang refleksi satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran dalam menyiapkan fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Mari menilai, periode awal pemerintahan ini merupakan momentum penting untuk mempercepat reformasi struktural di berbagai sektor.
Reformasi tersebut, menurutnya, harus diarahkan pada penguatan kelembagaan, efisiensi investasi, serta peningkatan daya saing industri nasional agar Indonesia mampu menjadi pusat pertumbuhan baru di Asia.
Menutup paparannya, Mari Elka Pangestu menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengejar ketertinggalan dari negara pesaing di kawasan, asalkan pemerintah mampu menjalankan kebijakan ekonomi secara konsisten dan terukur.
“Kita tidak kekurangan potensi, yang dibutuhkan adalah konsistensi dan keberanian dalam melaksanakan reformasi. Jika itu dilakukan, saya yakin Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam perekonomian global,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









