Akurat
Pemprov Sumsel

HSBC: Ekonomi Indonesia 2026 Diperkirakan Tumbuh 5,2 Persen, Permintaan Domestik Jadi Kunci di Tengah Perlambatan Ekspor

Naufal Lanten | 12 Januari 2026, 16:21 WIB
HSBC: Ekonomi Indonesia 2026 Diperkirakan Tumbuh 5,2 Persen, Permintaan Domestik Jadi Kunci di Tengah Perlambatan Ekspor

Perekonomian dunia sepanjang 2025 menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan. Di tengah kekhawatiran perlambatan global, arus perdagangan internasional tetap terjaga dan sektor-sektor baru berbasis teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI), justru menjadi penggerak baru aktivitas ekonomi.

Pranjul Bhandari, Managing Director sekaligus Chief India Economist dan ASEAN Macro Strategist HSBC Global, menilai kondisi tersebut menjadi kejutan positif bagi banyak negara.

“Jadi begini, ini adalah periode yang sangat menarik dan saya harus mengatakan bahwa pertumbuhan global pada 2025 ternyata jauh lebih tangguh dibandingkan perkiraan kami di awal tahun," ujar Bhandari dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026 yang diselenggarakan secara virtual, Senin, 12 Januari 2026.

Menurutnya, kekuatan perdagangan global dan munculnya sektor baru membuat situasi ekonomi dunia tidak semuram yang sempat dikhawatirkan.

Indonesia Tutup 2025 dengan Sinyal Positif

Di tengah dinamika global tersebut, Indonesia dinilai berhasil menutup 2025 dengan kondisi yang relatif lebih kuat. Meski pemulihan pascapandemi sempat berjalan lambat akibat kebijakan fiskal dan moneter yang ketat, tren mulai berubah di paruh akhir tahun.

Bhandari menilai momentum ini berpotensi berlanjut ke tahun berikutnya.

“Saya menilai 2025 memang ditutup dengan kondisi yang relatif kuat, dan menurut saya kekuatan ini bisa berlanjut hingga 2026.”

Dalam beberapa tahun setelah pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat berada di bawah potensi. Hal ini tercermin dari lemahnya pertumbuhan penjualan ritel, upah, hingga penciptaan lapangan kerja.

Kebijakan Longgar Jadi Titik Balik Ekonomi 2025

Perubahan arah kebijakan menjadi faktor kunci membaiknya kondisi ekonomi Indonesia. Sepanjang 2025, pemerintah dan Bank Indonesia mulai menerapkan kebijakan yang lebih akomodatif.

Bank Indonesia tercatat memangkas suku bunga acuan hingga 150 basis poin. Di sisi lain, pemerintah menggulirkan berbagai program bantuan sosial yang dampaknya mulai terlihat pada data ekonomi di akhir tahun.

Salah satu indikator yang paling mencolok adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur.

“Dalam lima bulan terakhir 2025, Purchasing Managers’ Index (PMI) tercatat berada di level positif setiap bulan.”

Konsistensi PMI di zona ekspansif ini menandakan aktivitas manufaktur yang semakin solid setelah sempat berfluktuasi di bulan-bulan sebelumnya.

Permintaan Domestik Jadi Motor Utama

Menariknya, penguatan PMI tidak hanya didorong oleh ekspor. Bhandari menegaskan bahwa lonjakan permintaan domestik menjadi faktor utama, terutama pada tiga bulan terakhir 2025.

Kondisi ini juga tercermin pada pertumbuhan kredit yang mulai membaik seiring berjalannya waktu. Meski di awal tahun kredit masih lemah, peningkatan terlihat jelas pada segmen tertentu.

“Menurut saya, peningkatan tersebut paling terlihat pada investasi di perusahaan-perusahaan kecil.”

Selain itu, data kepercayaan konsumen juga menunjukkan tren positif, mencerminkan meningkatnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Tantangan Konsumsi: Masih Bergantung pada Tabungan

Meski konsumsi membaik, Bhandari mengingatkan adanya kelemahan struktural yang perlu dicermati. Sebagian konsumsi masyarakat masih didorong oleh penarikan tabungan, bukan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.

“Masyarakat menguras tabungan mereka untuk membiayai konsumsi.”

Menurutnya, konsumsi yang sehat dalam jangka panjang seharusnya ditopang oleh peningkatan upah dan penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar penurunan tingkat tabungan.

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026: Domestik Jadi Penopang

Memasuki 2026, Bhandari memperkirakan ekspor Indonesia berpotensi melambat. Hal ini disebabkan oleh kinerja ekspor yang sangat kuat pada 2025, sebagian dipicu oleh percepatan pengiriman barang untuk mengantisipasi kenaikan tarif global.

Namun, pelemahan ekspor tersebut dinilai dapat diimbangi oleh kekuatan pasar domestik.

“Menurut saya, permintaan domestik berpotensi menutup pelemahan yang terjadi pada permintaan eksternal.”

Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 5,2 persen, sejalan dengan perkiraan pemerintah.

Fiskal Masih Punya Ruang Dukung Pertumbuhan

Dari sisi fiskal, Indonesia menutup 2025 dengan defisit sekitar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari target awal. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya pertumbuhan penerimaan negara akibat rendahnya pertumbuhan nominal PDB.

Namun, situasi ini diperkirakan membaik pada 2026 seiring potensi kenaikan pertumbuhan nominal.

“Kondisi itu akan memberi ruang bagi pemerintah untuk tetap melakukan belanja, dan hal tersebut akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi.”

Dengan penerimaan yang lebih baik, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk mendorong ekonomi tanpa harus memperlebar defisit.

Suku Bunga Masih Bisa Turun, Tapi Selektif

Kebijakan moneter juga diproyeksikan tetap akomodatif. Meski pertumbuhan membaik, Bhandari menilai masih ada ruang pelonggaran lanjutan dari Bank Indonesia.

Namun, keputusan pemangkasan suku bunga akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar.

“Dalam periode 12 bulan ke depan, masih ada kemungkinan tiga kali penurunan suku bunga tambahan pada 2026.”

Pemangkasan tersebut bersifat oportunistik, menunggu momentum ketika tekanan terhadap nilai tukar rupiah mereda.

Reformasi dan Manufaktur Jadi Kunci Jangka Menengah

Di luar kebijakan jangka pendek, Bhandari menekankan pentingnya reformasi struktural, khususnya di sektor manufaktur dan investasi asing langsung (FDI). Indonesia dinilai memiliki peluang besar di tengah perubahan rantai pasok global.

Ia menyoroti bahwa ekspor Indonesia ke Amerika Serikat didominasi produk manufaktur seperti tekstil, furnitur, dan alas kaki, bukan komoditas mentah. Namun, skalanya masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.

“Industri-industri tersebut sebenarnya sudah ada di Indonesia, tetapi masih perlu ditingkatkan skalanya.”

Dengan perbaikan iklim usaha dan reformasi berkelanjutan, sektor manufaktur berpotensi menjadi sumber penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan dalam beberapa tahun ke depan.

Kesimpulan: Momentum Ada, Tapi Perlu Dijaga

Secara keseluruhan, prospek ekonomi Indonesia pada 2026 terlihat cukup menjanjikan. Permintaan domestik, kebijakan yang akomodatif, serta peluang dari pergeseran rantai pasok global menjadi modal utama.

Namun, untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, Indonesia perlu memastikan konsumsi tidak hanya bergantung pada tabungan, melainkan ditopang oleh peningkatan kualitas lapangan kerja dan pendapatan.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan ekonomi Indonesia dan dampaknya ke kehidupan sehari-hari, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Outlook Makro 2026: Ekonomi Indonesia di Tahun Kuda Api

Baca Juga: Purbaya Sesalkan Banyak Eksportir Lakukan Underinvoicing, Ini Dampaknya ke Ekonomi RI

FAQ

1. Berapa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 5,2 persen, sejalan dengan perkiraan pemerintah dan didorong oleh penguatan permintaan domestik.

2. Siapa Pranjul Bhandari yang memberikan analisis ekonomi ini?

Pranjul Bhandari adalah Managing Director serta Chief India Economist dan ASEAN Macro Strategist, yang kerap memberikan pandangan makroekonomi global dan regional, termasuk Indonesia.

3. Apa faktor utama yang menopang ekonomi Indonesia pada 2025?

Ekonomi Indonesia pada 2025 ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar, pemangkasan suku bunga Bank Indonesia, serta berbagai program bantuan sosial yang mendorong permintaan domestik.

4. Mengapa permintaan domestik dinilai penting untuk 2026?

Permintaan domestik diperkirakan menjadi penopang utama karena ekspor berpotensi melambat setelah mencatat kinerja sangat kuat pada 2025. Konsumsi dan investasi dalam negeri diharapkan mampu menutup pelemahan tersebut.

5. Apakah Bank Indonesia masih akan menurunkan suku bunga pada 2026?

Masih ada peluang. Menurut Pranjul Bhandari, Bank Indonesia berpotensi memangkas suku bunga hingga tiga kali lagi pada 2026, namun langkahnya akan bersifat selektif dan bergantung pada kondisi nilai tukar.

6. Apa tantangan utama ekonomi Indonesia ke depan?

Salah satu tantangan utama adalah konsumsi yang masih bergantung pada penarikan tabungan, bukan sepenuhnya dari kenaikan upah dan penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.

7. Mengapa sektor manufaktur dianggap penting untuk pertumbuhan jangka menengah?

Sektor manufaktur dinilai krusial karena berpotensi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan, sekaligus memanfaatkan peluang dari pergeseran rantai pasok global.

8. Bagaimana posisi Indonesia dalam rantai pasok global?

Indonesia memiliki basis industri manufaktur seperti tekstil, furnitur, dan alas kaki. Namun, skalanya masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan negara lain seperti Vietnam.

9. Apakah kebijakan fiskal Indonesia masih mendukung pertumbuhan pada 2026?

Ya. Dengan potensi peningkatan pertumbuhan nominal PDB dan penerimaan pajak, pemerintah masih memiliki ruang untuk belanja tanpa harus memperlebar defisit secara signifikan.

10. Apa kunci agar pertumbuhan ekonomi Indonesia berkelanjutan?

Kunci utamanya adalah reformasi struktural, terutama di sektor manufaktur, kemudahan berusaha, dan peningkatan investasi asing langsung, agar pertumbuhan tidak hanya bersifat jangka pendek.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.