Kebijakan Tarif AS Dorong Aset Aman Menguat

AKURAT.CO Kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) dinilai memicu peningkatan ketidakpastian global dan mendorong investor beralih ke aset aman. Pergeseran tersebut berpotensi menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman mengatakan investor global membaca kebijakan tarif AS bukan sekadar proteksionisme, melainkan sumber volatilitas kebijakan (policy uncertainty).
"Karena itu investor global cenderung memindahkan dana sementara ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS dan dolar AS, sementara aset emerging market dianggap lebih berisiko meskipun fundamental domestiknya tidak berubah," ucap Rizal di Jakarta, Minggu.
Baca Juga: Kanselir Jerman Tegaskan Eropa Tak Gentar Ancaman Tarif AS
Lebih lanjut Rizal menjelaskan, perubahan aturan perdagangan dalam waktu singkat membuat proyeksi laba perusahaan, harga komoditas, dan arus logistik sulit diprediksi.
Secara historis, fase risk-off global kerap mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Data pasar global menunjukkan setiap lonjakan indeks dolar biasanya diikuti arus keluar portofolio dari emerging market dalam jangka pendek.
Sebagai informasi, dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan perdagangan AS kerap menjadi faktor volatilitas pasar global.
Ketidakpastian tarif tersebut menjadi pemicu fluktuasi signifikan pada arus modal dan nilai tukar negara berkembang.
Oleh sebab itu, tambah Rizal, gejolak tarif AS bekerja terutama melalui kanal sentimen risiko global, bukan langsung melalui penurunan volume perdagangan barang.
Baca Juga: Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9% di 2025 Meski Tertekan Tarif AS
"Perubahan kebijakan yang cepat meningkatkan ketidakpastian perdagangan dunia sehingga investor global cenderung mengurangi eksposur di aset negara berkembang (risk-off)," ujarnya.
Bagi pasar keuangan Indonesia, perubahan sentimen global berpotensi memicu arus keluar dana asing dari saham dan obligasi. Dampaknya bisa berupa kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) dan tekanan likuiditas pasar.
Tekanan juga dapat dirasakan pada nilai tukar rupiah karena sensitif terhadap pergerakan dolar AS. Kondisi ini berpengaruh pada biaya impor dan persepsi risiko investor terhadap aset domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








