Inflasi Januari 2026 Tembus 3,55 Persen, BI: Ini Hanya Sementara

AKURAT.CO Inflasi pada awal 2026 tercatat sedikit melampaui target Bank Indonesia (BI). Namun bank sentral menegaskan kenaikan tersebut bersifat sementara dan tetap optimistis stabilitas harga terjaga selama periode Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah.
Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi Januari 2026 mencapai 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan Desember 2025 sebesar 2,92% (yoy). Angka ini tipis melewati batas atas sasaran inflasi BI yang berada di level 3,5%.
Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut terutama dipengaruhi faktor base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% yang diberlakukan pada Januari dan Februari 2025.
Baca Juga: Jejak Karier dan Profil Thomas Djiwandono, Mantan Wamenkeu Resmi Jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia
“Sedikit di atas target inflasi kita 3,5 persen. Tapi ini sifatnya sementara,” ujar Aida dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, secara fundamental tekanan harga tetap terkendali. Inflasi inti tercatat 2,45% (yoy), mencerminkan permintaan domestik yang masih dalam kapasitas ekonomi. Sementara itu, inflasi kelompok volatile food justru terjaga rendah di level 1,14% (yoy).
Dari sisi pasokan pangan, BI memastikan kondisi relatif aman menjelang Ramadan dan Lebaran. Sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah tengah memasuki masa panen, sehingga menopang stabilitas harga.
“Bagaimana kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini? Semuanya masih terjaga. Tetapi masih ada dampak daripada administered prices akibat diskon listrik yang terjadi di tahun lalu, sehingga kami perkirakan angkanya sedikit di atas 3 persen,” kata Aida.
BI juga menegaskan pemantauan harga dilakukan secara mingguan untuk memastikan tren inflasi tetap sesuai proyeksi.
“Jadi mudah-mudahan ini akan terus terjaga sampai dengan bulan Maret. Tetapi bahwa Januari, Februari ini agak sedikit tinggi, tapi karena dampak daripada diskon listrik yang terjadi di tahun lalu,” lanjutnya.
Baca Juga: BI Rate Ditahan Lagi di 4,75 Persen pada Februari 2026
BI memperkuat koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) serta optimalisasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Langkah ini diarahkan untuk menjaga inflasi volatile food tetap stabil, terutama di momentum konsumsi tinggi seperti Ramadan.
Secara tahunan, BI meyakini inflasi 2026 dan 2027 akan kembali menurun dan berada dalam kisaran target 2,5% ±1%. Konsistensi suku bunga kebijakan serta terkendalinya imported inflation dinilai menjadi faktor penopang utama stabilitas harga dalam jangka menengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









