Ekonom Optimistis Ekonomi RI Tumbuh Lebih dari 5,39 Persen di Kuartal I-2026

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 diyakini bakal lebih tinggi dari kuartal sebelumnya.
Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), Andry Asmoro melihat setidaknya ada 3 faktor yang bakal mendorong pertumbuhan ekonomi RI melesat di awal 2026.
"Mestinya bisa di atas kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen kemarin kalau lihat dari 3 hal: seasonal factor ramadan dan lebaran 2026, low base effect dan akselerasi belanja di MBG dan KDMP," ujar Andry di sela Buka Bersama di Jakarta, Rabu (24/2/2026).
Sebelumnya, Menkeu RI, Purbaya Yudhi Sadewa optimistis kuartal I-2026 ini Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 5,5-6%. Salah satu faktor pendorongnya adalah peningkatan belanja pemerintah menjadi Rp809 triliun.
Baca Juga: Bos BRI Optimitis Pertumbuhan Ekonomi RI di 2026 Tembus 5,2 Persen, Ini Pendorongnya
Momentum Decoupling
Menurut Andry, tren decoupling atau pemisahan ketergantungan di berbagai hal (segmen, sektor, wilayah) bisa dimaksimalkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Salah satu contoh adalah decoupling dari sisi kelompok middle upper dan middle lower. Perbankan tetap punya potensi menyalurkan kredit ke pelaku usaha atau kelompok middle upper dengan karakter spesifiknya seperti keleluasaan anggaran dan masih kuat melakukan spending ke secondary dan tertiary.
"Sport dan entertaintment. Kredit perbankan bisa digenjot, yang pasti kan ada potensi bisnis di situ," ujar Andry.
Kemudian dari sisi sektoral, masih ada beberapa sektor yang lagging dan bisa didorong untuk tumbuh lebih tinggi seperti manufaktur, pertanian dan perkebunan. Potensinya besar sekali, misalnya di perkebunan kan komoditas kita seperti kopi, cokelat, kelapa, cengkeh dan pala.
"Jadi kalau sektor yang lagging ini kemudian dikembangkan, bisa menjawab 3 tantangan ekonomi nasional sekaligus: mendorong pertumbuhan ekonomi karena kontribusinya besar, penyerapan tenaga kerja yang mayoritas masih informal, mendorong suplai valas," papar Andry.
Terakhir dari sisi wilayah, datanya tak kalah menarik. Selama 40 tahun belakangan (1984-2024), PDRB Sumatra dan Kalimantan terus turun sementara Jawa terus naik. "Artinya perlu lebih diseriusi lagi, pemerintah perlu mendorong pembangunan dan kue ekonomi di sana agar lebih merata lagi," tutur Andry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









