Akurat
Pemprov Sumsel

BI Rate di Tengah Tekanan Dana Asing, Ekonom: Jangan Dinaikkan Dulu, Kuncinya di Fiskal

Esha Tri Wahyuni | 2 Maret 2026, 19:04 WIB
BI Rate di Tengah Tekanan Dana Asing, Ekonom: Jangan Dinaikkan Dulu, Kuncinya di Fiskal
Ilustrasi tekanan dana asing

AKURAT.CO Lonjakan Indeks Volatilitas Global/VIX Index sebesar 52% sejak awal 2026 menjadi sinyal kuat meningkatnya sentimen risk-off global.

Ketika volatilitas pasar keuangan melonjak, investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman atau safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru, apakah arus modal asing berpotensi keluar dari pasar domestik Indonesia?

Di tengah tekanan eksternal tersebut, muncul pula pertanyaan strategis, apakah Bank Indonesia (BI) perlu menaikkan suku bunga acuan demi menahan capital outflow, meski berisiko menekan pertumbuhan ekonomi?

Baca Juga: Mitigasi Dampak Penutupan Selat Hormuz, Airlangga: Pertamina Sudah Mou Dengan Beberapa Perusahaan Migas AS

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bima Yudhistira, menilai potensi keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik memang terbuka lebar seiring meningkatnya volatilitas global.

“Arus modal asing berpotensi keluar dari pasar surat utang dan saham,” ujar Bima saat dihubungi Akurat.co, Senin (2/3/2026).

Lebih lanjut Bima menjelaskan kenaikan tajam VIX Index umumnya mencerminkan ketidakpastian tinggi di pasar global. Dalam fase ini, investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pasar surat utang negara (SBN) dan pasar saham menjadi dua instrumen yang paling rentan terhadap aksi jual investor asing. Jika tekanan jual meningkat, imbal hasil (yield) SBN berpotensi naik dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa tertekan.

Capital outflow juga berimplikasi pada nilai tukar rupiah. Permintaan dolar AS meningkat ketika investor asing merepatriasi dana, sehingga rupiah berisiko melemah. Pelemahan kurs, di tengah tekanan harga komoditas global, dapat memperbesar risiko imported inflation.

BI Perlu Naikkan Suku Bunga?

Dalam situasi capital outflow, respons klasik bank sentral adalah menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga daya tarik aset domestik dan menahan pelemahan mata uang. Namun langkah ini bukan tanpa konsekuensi.

Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, investasi swasta, serta ekspansi kredit perbankan. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi bisa melambat.

Bima menilai kebijakan moneter belum perlu diperketat dalam waktu dekat. “Kuncinya saya kira di fiskal, jangan naikkan suku bunga acuan dulu,” tegasnya.

Menurut Bima, penguatan fundamental fiskal lebih mendesak untuk menjaga kepercayaan investor dibandingkan respons agresif melalui suku bunga. Kredibilitas APBN, disiplin defisit, serta pengelolaan subsidi energi yang terukur dinilai lebih efektif dalam menjaga persepsi risiko Indonesia.

Jika suku bunga dinaikkan terlalu cepat, tekanan terhadap sektor riil bisa semakin berat. Dunia usaha menghadapi biaya pinjaman lebih tinggi, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dari tekanan inflasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.