Akurat
Pemprov Sumsel

Kepercayaan Konsumen RI Tetap Kuat, IKK Februari 2026 Masih di Level Optimistis

Esha Tri Wahyuni | 9 Maret 2026, 18:20 WIB
Kepercayaan Konsumen RI Tetap Kuat, IKK Februari 2026 Masih di Level Optimistis
Ilustrasi kepercayaan konsumen atau IKK

AKURAT.CO Keyakinan konsumen Indonesia terhadap kondisi ekonomi nasional tetap kuat pada Februari 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia (BI) melalui Survei Konsumen terbaru.

Meski sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya, IKK masih bertahan di level optimistis di atas angka 100, yang menandakan masyarakat tetap percaya terhadap prospek ekonomi.

Bank Indonesia mencatat IKK Februari 2026 berada di level 125,2, turun tipis dari 127,0 pada Januari 2026. Angka tersebut menunjukkan optimisme konsumen masih relatif tinggi di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Baca Juga: BI Rate di Tengah Tekanan Dana Asing, Ekonom: Jangan Dinaikkan Dulu, Kuncinya di Fiskal

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menegaskan, bahwa keyakinan konsumen tetap terjaga karena kondisi ekonomi saat ini dinilai cukup solid oleh masyarakat.

“Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Februari 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 115,9, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 115,1,” kata Ramdan di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Komponen Penghasilan dan Lapangan Kerja Dorong Optimisme

Bank Indonesia juga mencatat bahwa meningkatnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) didorong oleh perbaikan pada seluruh komponen pembentuknya.

Faktor utama yang menopang optimisme konsumen adalah peningkatan pendapatan masyarakat, ketersediaan lapangan kerja, serta kemampuan membeli barang tahan lama.

Dalam survei tersebut, Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) tercatat sebesar 125,0, naik dari 123,7 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) meningkat menjadi 110,7, dari sebelumnya 109,9.

Selain itu, Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) juga mengalami kenaikan tipis menjadi 112,0, dibandingkan 111,8 pada Januari 2026.

Kenaikan sejumlah indikator tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih merasa kondisi ekonomi cukup stabil untuk memenuhi kebutuhan konsumsi maupun pembelian barang jangka panjang.

Ekspektasi Ekonomi Enam Bulan ke Depan Masih Optimistis

Tidak hanya kondisi saat ini, ekspektasi konsumen terhadap perekonomian dalam enam bulan mendatang juga masih berada pada level optimistis.

Bank Indonesia mencatat Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Februari 2026 berada di angka 134,4, meskipun lebih rendah dibandingkan 138,8 pada bulan sebelumnya.

Optimisme tersebut terutama ditopang oleh harapan konsumen terhadap peningkatan penghasilan, peluang kerja, serta aktivitas usaha.

BI mencatat ekspektasi penghasilan berada pada level 140,7, sedangkan ekspektasi ketersediaan lapangan kerja tercatat sebesar 131,7. Sementara itu, ekspektasi kegiatan usaha berada pada angka 130,9.

Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat masih percaya aktivitas ekonomi akan tetap bergerak positif dalam beberapa bulan ke depan.

Selain memotret optimisme ekonomi, Survei Konsumen Bank Indonesia juga menggambarkan perubahan pola pengelolaan keuangan rumah tangga masyarakat.

Pada Februari 2026, proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 71,6 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan 72,3 persen pada Januari 2026.

Sementara itu, rasio pembayaran cicilan atau utang terhadap pendapatan (debt installment to income ratio) juga menurun menjadi 10,6 persen, dari sebelumnya 11,2 persen.

Di sisi lain, proporsi pendapatan yang disimpan masyarakat (saving to income ratio) justru mengalami peningkatan. Pada Februari 2026, rasio tabungan masyarakat tercatat sebesar 17,7 persen, lebih tinggi dibandingkan 16,5 persen pada bulan sebelumnya.

Kenaikan rasio tabungan ini mengindikasikan masyarakat mulai meningkatkan cadangan keuangan, sekaligus menunjukkan adanya ruang stabilitas dalam kondisi keuangan rumah tangga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.