Alasan Psikologis di Balik Fenomena Tahunan Open to Work Jelang Lebaran 2026

AKURAT.CO Momen Lebaran banyak dirayakan oleh kelas menengah atau kaum pekerja kantoran, tak hanya untuk "jeda" dari rutinitas pekerjaan, namun juga sebagai peristiwa reflektif tentang jenjang kariernya ke depan.
Tak jarang terlihat profil pengguna Linked In berbagde #OpentoWork pun berseliweran di timeline. Sederhananya, fenomena ini adalah maraknya pencari kerja yang menandai profil LinkedIn mereka sebagai terbuka untuk kesempatan baru.
Fenomena ini juga acap kali berbarengan dengan "gelombang resign" yang diprediksi akan meningkat setelah Lebaran, ataupun Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK oleh perusahaan.
Baca Juga: Kapolri Resmikan Masjid Al-Adzim, Gandeng Ojol dan Satgas PHK Jaga Kamtibmas
Namun adakah alasan psikologis di balik keputusan orang-orang yang ingin berpindah kerja tersebut? Alasannya beragam.
Seperti yang diunggah salah satu pengguna LinkedIn yang Open to Work, Biutifa Fisisa Prawira, kerap kali mereka OpentoWork lantaran nominal gaji yang stuck padahal pekerjaan semakin out of jobdesk.
Alasan lain, nihilnya kejelasan jenjang karier, tak ada ruang bertumbuh dan berkembang, kesenjangan sosial antara pimpinan dan anggota, lingkungan kerja toxic dan kurangnya apresiasi dan feedback.
Ataupun, keputusan manajemen yang tak konsisten dan cepat berubah, ketidakpastian masa depan perusahaan serta skill yang tak termanfaatkan secara optimal. "Ada alasan lainnya enggak?," unggahnya.
"Tidak ada kejelasan tahapan recruitment (ghosting), sistem kerja tak sesuai dan tak seimbang antara kehidupan dunia kerja dan pribadi," timpal pengguna LinkedIn lainnya yang juga Open to Work, Risma Hardiyanti Arumi.
Nomina gaji yang stuck sementara jobdesk bertambah juga menjadi pemicu pekerja ingin berganti pekerjaan, seperti yang diakui Ali, pekerja dan pemudik Lebaran 2026 berusia 24 tahun.
"Usai kontrak saya habis di April, rencananya saya ingin mencari pekerjaan di sini (Tegal) saja," ujar Ali.
Pasar Kerja Wait and See
Menurut LowkerBox dalam unggahannya di IG, Fenomena wait and see bagi pencari kerja menjelang Lebaran memang nyata.
Alasan logis singkat di baliknyanya adalah karena ini fase sibuk HR yang mengelola THR hingga ada yang resign dan biasanya baru banyak lagi usai lebaran
Lebih luas lagi, fase wait and see ini didorong oleh berbagai faktor dari sisi pemberi kerja atau perusahaan mulai dari pola pengeluaran, musim libur panjang hingga pergantian anggaran.
Seperti diketahui, menjelang Lebaran, perusahaan biasanya fokus pada arus kas untuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan persiapan operasional selama libur panjang. Rekrutmen sering kali menjadi prioritas kedua.
Kemudian saat libur lanjang Lebaran, banyak pengambil keputusan (HRD atau User) mengambil cuti. Proses wawancara atau pengambilan keputusan sering kali tertunda karena banyak orang kunci yang tidak ada di tempat.
Lalu juga beberapa perusahaan menunggu selesainya siklus lebaran untuk melihat kondisi keuangan perusahaan pasca-THR sebelum membuka lowongan baru.
Meski banyak perusahaan terkesan "mengerem" lowongan pekerjaan, bukan berarti pasar kerja berhenti total. Justru ada keuntungan bagi yang tetap sibuk bergerak, mulai dari persaingan lebih sedikit, sampai perusahaan yang justru ingin start di bulan baru usai Lebaran.
Korban PHK
Sementara itu, cerita pemutusan hubungan kerja atau PHK masih mewarnai Lebaran 2026. Menandakan, pemerintah masih punya PR struktural terkait penyediaan lapangan kerja berkualitas dan berkelanjutan, baik yang formal.
Astri, ibu rumah tangga sekaligus karyawan di salah satu perusahaan swasta di bilangan Duren Tiga, Jaksel, tak menyangka lebarannya bakal dilalui dengan "surat cinta" PHK.
Tak lama setelah menerima THR, surat itu ia terima beserta teman-temannya, tanpa aba-aba. Padahal Astri sudah bertahun-tahun bekerja di kantor tersebut.
"Keparat, memang! Andai kata John F Kennedy lahir dan tinggal di sini, pasti ia bakal bilang jangan tanyakan apa yang negara bisa berikan kepadamu, tapi tanyakanlah ini negara apa sih?," satirnya.
Kondisi serupa juga dialami Resa, yang sudah lebih dulu diberhentikan dari kantornya beberapa bulan sebelum lebaran. Karena usia yang sudah tergolong tak muda lagi, lapangan pekerjaan yang tersedia untuknya pun semakin sempit.
"Rencananya saya bakal ngegrab saja kalu tak dapat-dapat pekerjaan," timpalnya.
Alasan Psikologis di Balik Pindah Kerja
Menurut American National Standard Institute, ada 3 faktor psikologis yang mendorong karyawan untuk berganti pekerjaan atau berhenti selama liburan Idulfitri.
Meliputi kelelahan yang menumpuk akibat "berjuang melewati" tekanan akhir tahun, stres finansial yang hebat dari pengeluaran perayaan, dan evaluasi ulang keseimbangan kerja-hidup setelah menikmati waktu berkualitas bersama keluarga.
Pergeseran mendadak kembali ke rutinitas kerja menyebabkan kelelahan, stres, dan penurunan motivasi, mendorong pekerja untuk mencari peran dengan fleksibilitas yang lebih baik atau tuntutan mental yang lebih rendah.
Faktor Psikologis Utama yang Mendorong Perpindahan:
Burnout dan Kelelahan Mental. Beban kerja yang tinggi sebelum liburan, ditambah dengan tekanan sosial dari perayaan, menyebabkan kelelahan, membuat karyawan mempertanyakan keberlanjutan pekerjaan mereka saat ini.
Pergeseran Prioritas & Evaluasi Ulang Kehidupan. Idulfitri menjadi momen refleksi alami. Menghabiskan waktu bersama keluarga seringkali menyoroti ketidakseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi, sehingga mendorong para pekerja untuk mencari perusahaan yang memprioritaskan kesejahteraan dan fleksibilitas.
Tekanan Keuangan. Peningkatan pengeluaran selama musim liburan dapat memicu kebutuhan akan pendapatan yang lebih tinggi, mendorong para pekerja untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih baik.
"Kemerosotan" dan Ketidakaktifan Pascaliburan. Pergeseran emosional dari keadaan liburan yang penuh kegembiraan dan santai kembali ke pekerjaan menyebabkan efek "kesedihan pasca liburan", mengurangi motivasi dan meningkatkan keinginan untuk berhenti bekerja.
Kurangnya Keamanan Psikologis. Jika sebuah organisasi gagal mendukung kesejahteraan karyawan selama periode sibuk menjelang liburan, karyawan cenderung merasa tidak termotivasi dan mencari pilihan lain.
Lebih lanjut, IPB mencatat periode Pascalebaran kerap menjadi periode perputaran karyawan yang kritis karena 3 hal: perbandingan sosial, ekspektasi yang tak realistis serta jeda yang panjang.
Pertemuan keluarga dapat memicu kecemasan tentang "pekerjaan apa" atau "posisi apa" yang mereka miliki, yang berujung pada ketidakpuasan.
Kemudian pekerja juga sering mencoba menyeimbangkan pekerjaan yang penuh tekanan dengan acara keluarga yang penuh energi dapat menimbulkan kecemasan yang parah.
Lalu jeda yang diperpanjang, yang seringkali wajib, memberikan waktu yang cukup untuk mencari pekerjaan atau mendiskusikan langkah karier dengan keluarga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










