Krisis Minyak Dampak Perang AS-Iran Kian Terasa di Berbagai Penjuru Dunia

AKURAT.CO Memasuki pekan ketiga konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, dampaknya terhadap perekonomian global masih diliputi ketidakpastian.
Namun satu hal yang sudah jelas: minyak menjadi episentrum krisis. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran—jalur vital yang mengalirkan hampir 20% pasokan minyak dunia—telah menghentikan arus energi global dan memicu lonjakan harga bahan bakar.
Meski harga minyak sudah melonjak, konsekuensi penuh dari penutupan berkepanjangan berpotensi jauh lebih destruktif bagi sistem ekonomi global.
Baca Juga: Tekanan Perang AS-Iran, Bos BI: Konsumsi dan Investasi Kunci Pertumbuhan Berkualitas
Gangguan Pasokan dalam Skala Besar
Analis minyak Rory Johnston berbicara pada Harvard Business Review menilai gangguan saat ini terjadi dalam dua lapisan: produksi dan distribusi.
Dari sisi produksi, negara-negara Teluk seperti Irak dan Kuwait terpaksa memangkas output karena tidak memiliki jalur alternatif ekspor. Sekitar 8,5 juta barel per hari—lebih dari 8% pasokan global—diperkirakan telah dihentikan sementara.
Di sisi lain, sekitar 20 juta barel per hari yang biasanya melewati Selat Hormuz kini tertahan.
Dalam dua pekan terakhir saja, sekitar 300 juta barel minyak gagal masuk pasar global. Kondisi ini menciptakan “kekosongan pasokan” yang akan terasa nyata dalam waktu dekat, terutama di Asia sebagai tujuan utama ekspor Teluk.
Sistem minyak global, yang sangat bergantung pada aliran stabil, kini menghadapi gangguan serius. Ketika gelombang pasokan terakhir tiba di tujuan, pasar akan mulai merasakan tekanan nyata melalui penurunan stok secara cepat.
Efek Domino di Industri Energi
Kilang-kilang di Asia telah mulai mengantisipasi krisis dengan menurunkan kapasitas produksi guna memperpanjang ketersediaan bahan baku. Namun langkah ini hanya bersifat sementara.
Jika krisis berlanjut, efek domino tak terhindarkan: dari penurunan stok, kepanikan pasar, hingga potensi penutupan kilang. Sejauh ini, pasar keuangan masih cenderung meremehkan risiko, dengan asumsi konflik akan segera mereda.
Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Ini bukan lagi gangguan biasa, melainkan guncangan besar yang berpotensi “mematahkan” sistem energi global.
Ancaman “Demand Destruction”
Dalam skenario terburuk, lonjakan harga tidak lagi sekadar mengurangi konsumsi, tetapi memaksa penurunan permintaan secara paksa (demand destruction).
Artinya, bukan karena konsumen memilih mengurangi konsumsi, melainkan karena mereka tidak lagi mampu membeli energi. Dampaknya bisa meluas: penerbangan berkurang, distribusi melambat, hingga aktivitas ekonomi menyusut.
Tekanan Inflasi dari Sektor Energi
Selain bensin, tekanan terbesar justru datang dari produk turunan seperti solar dan bahan bakar jet—yang menjadi tulang punggung logistik global. Harga diesel, misalnya, melonjak tajam dengan margin terhadap minyak mentah hampir menyentuh USD70 per barel.
Kenaikan ini berpotensi langsung mendorong inflasi melalui biaya logistik, pengiriman barang, hingga harga kebutuhan pokok. Dalam jangka pendek, pelaku usaha mungkin menahan kenaikan harga. Namun dalam 2–3 bulan, biaya tersebut hampir pasti akan diteruskan ke konsumen.
Respons Bank Sentral
Situasi ini menempatkan bank sentral dalam dilema. Di satu sisi, lonjakan harga energi biasanya diabaikan sebagai faktor sementara. Namun jika memicu ekspektasi inflasi, respons kebijakan moneter menjadi tak terhindarkan.
Pengalaman 2022 menjadi pelajaran penting, ketika lonjakan energi pasca invasi Rusia ke Ukraina memperburuk tekanan inflasi global. Saat ini, risiko serupa kembali muncul—bahkan dalam skala yang lebih besar.
Krisis Lebih Besar dari 2022
Jika pada 2022 pasar khawatir kehilangan sekitar 3 juta barel per hari dari Rusia—yang pada akhirnya tidak sepenuhnya terjadi—kali ini dunia benar-benar kehilangan hingga 20 juta barel per hari akibat penutupan Selat Hormuz.
Dengan skala gangguan tujuh kali lebih besar, krisis saat ini dinilai jauh lebih serius. Upaya mitigasi, seperti pelepasan cadangan strategis atau pengalihan jalur distribusi, hanya mampu menutup sebagian kecil kekurangan.
Dampak Asimetris ke Negara Berkembang
Krisis ini juga memperlebar kesenjangan global. Negara maju seperti AS dan Eropa relatif mampu menyerap lonjakan harga. Sebaliknya, negara berkembang berisiko menghadapi kelangkaan fisik energi.
Dalam mekanisme pasar, pasokan akan mengalir ke pembeli dengan harga tertinggi. Akibatnya, negara-negara dengan daya beli rendah bisa kehilangan akses terhadap energi, dengan dampak langsung pada listrik, transportasi, dan aktivitas ekonomi.
Dunia Usaha di Persimpangan Risiko
Bagi pelaku usaha, situasi saat ini menghadirkan dilema besar. Volatilitas harga yang ekstrem—dengan fluktuasi harian hingga puluhan dolar per barel—membuat strategi lindung nilai (hedging) menjadi berisiko tinggi.
Di satu sisi, ada peluang mengamankan pasokan dengan harga lebih rendah untuk pengiriman mendatang. Namun di sisi lain, perubahan kebijakan geopolitik yang tiba-tiba bisa membuat posisi tersebut merugikan. Ketidakpastian inilah yang kini menjadi musuh utama pasar.
Ketidakpastian Menahan Ekonomi Global
Dalam kondisi normal, risiko adalah bagian dari dinamika pasar. Namun ketidakpastian yang berkepanjangan justru melumpuhkan aktivitas ekonomi.
Saat ini, pelaku pasar cenderung “menunggu dan melihat”, sembari berharap konflik segera berakhir. Namun jika gangguan fisik pasokan terus berlanjut, pasar tidak akan punya pilihan selain menyesuaikan diri—dengan konsekuensi harga yang lebih tinggi dan tekanan ekonomi yang lebih luas.
Krisis ini belum mencapai puncaknya. Dan jika Selat Hormuz tetap tertutup, dunia mungkin akan menghadapi salah satu guncangan energi terbesar dalam sejarah modern.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










