Trump Tunda Serang Infrastruktur Iran, Bursa Asia Reli dan Minyak Rebound

AKURAT.CO Bursa saham Asia menguat pada perdagangan terbaru setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, memicu harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah.
Penguatan terjadi di sejumlah indeks utama, dengan Nikkei 225 Jepang naik 3,8%, Hang Seng Hong Kong menguat 2,8%, dan S&P/ASX 200 Australia bertambah 1,8%, mengikuti reli sebelumnya di Wall Street.
Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kembali menguat setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari 10% dalam satu sesi perdagangan.
Baca Juga: IHSG Tersungkur Seiring Terkoreksinya Bursa Saham Asia
Rebound ini terjadi meski Iran membantah adanya pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, pasar keuangan global menunjukkan penyesuaian ekspektasi, tercermin dari penurunan imbal hasil obligasi AS dan melemahnya dolar AS seiring pelaku pasar mulai mengurangi proyeksi kebijakan moneter ketat dari The Fed.
Presiden Trump menyatakan bahwa keputusan menunda serangan selama lima hari didasarkan pada adanya peluang diplomasi. Ia mengungkapkan bahwa utusan khusus AS telah melakukan pembicaraan intensif dengan pihak yang disebut sebagai “orang penting” dari Iran.
“Kami memiliki poin-poin kesepakatan utama. Kedua pihak ingin membuat kesepakatan dan pembicaraan akan dilanjutkan,” ujar Trump dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2026).
Namun, pemerintah Iran secara tegas membantah adanya negosiasi langsung tersebut. Ketidaksinkronan informasi ini menciptakan ketidakpastian baru di pasar, meski untuk sementara sentimen tetap positif.
Baca Juga: IHSG Menguat Seiring Perkasanya Bursa Saham Asia
“Pasar terbangun dengan beberapa berita yang berpotensi baik, tetapi kelanjutan reli akan sangat bergantung pada tindak lanjut nyata di bidang geopolitik," Chris Larkin dari E*Trade Morgan Stanley.
Secara historis, ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, memiliki dampak signifikan terhadap pasar energi global. Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia, menjadi titik krusial dalam dinamika ini.
Gangguan distribusi di wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir telah memicu volatilitas harga minyak serta meningkatkan risiko inflasi global.
Pemerintah AS sebelumnya telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam tekanan pasar energi, termasuk pelepasan cadangan minyak strategis serta pelonggaran sebagian sanksi terhadap ekspor minyak Iran dan Rusia.
Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasokan global di tengah ancaman gangguan distribusi akibat konflik.
Brock Weimer dari Edward Jones menilai bahwa indikator utama de-eskalasi bukan hanya retorika, melainkan realisasi di lapangan.
“Indikasi paling jelas dari de-eskalasi yang berarti adalah apakah aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz mampu pulih,” ujarnya.
Dari sisi pasar, pergerakan ini menegaskan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









