Akurat
Pemprov Sumsel

Trump Tunda Serang Infrastruktur Iran, Bursa Asia Reli dan Minyak Rebound

Esha Tri Wahyuni | 24 Maret 2026, 11:30 WIB
Trump Tunda Serang Infrastruktur Iran, Bursa Asia Reli dan Minyak Rebound
ilustrasi bursa asia

AKURAT.CO Bursa saham Asia menguat pada perdagangan terbaru setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, memicu harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah.

Penguatan terjadi di sejumlah indeks utama, dengan Nikkei 225 Jepang naik 3,8%, Hang Seng Hong Kong menguat 2,8%, dan S&P/ASX 200 Australia bertambah 1,8%, mengikuti reli sebelumnya di Wall Street.

Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kembali menguat setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari 10% dalam satu sesi perdagangan.

Baca Juga: IHSG Tersungkur Seiring Terkoreksinya Bursa Saham Asia

Rebound ini terjadi meski Iran membantah adanya pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat. 

Sementara itu, pasar keuangan global menunjukkan penyesuaian ekspektasi, tercermin dari penurunan imbal hasil obligasi AS dan melemahnya dolar AS seiring pelaku pasar mulai mengurangi proyeksi kebijakan moneter ketat dari The Fed.

Presiden Trump menyatakan bahwa keputusan menunda serangan selama lima hari didasarkan pada adanya peluang diplomasi. Ia mengungkapkan bahwa utusan khusus AS telah melakukan pembicaraan intensif dengan pihak yang disebut sebagai “orang penting” dari Iran. 

“Kami memiliki poin-poin kesepakatan utama. Kedua pihak ingin membuat kesepakatan dan pembicaraan akan dilanjutkan,” ujar Trump dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2026).

Namun, pemerintah Iran secara tegas membantah adanya negosiasi langsung tersebut. Ketidaksinkronan informasi ini menciptakan ketidakpastian baru di pasar, meski untuk sementara sentimen tetap positif. 

Baca Juga: IHSG Menguat Seiring Perkasanya Bursa Saham Asia

“Pasar terbangun dengan beberapa berita yang berpotensi baik, tetapi kelanjutan reli akan sangat bergantung pada tindak lanjut nyata di bidang geopolitik," Chris Larkin dari E*Trade Morgan Stanley.

Secara historis, ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, memiliki dampak signifikan terhadap pasar energi global. Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia, menjadi titik krusial dalam dinamika ini.

Gangguan distribusi di wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir telah memicu volatilitas harga minyak serta meningkatkan risiko inflasi global.

Pemerintah AS sebelumnya telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam tekanan pasar energi, termasuk pelepasan cadangan minyak strategis serta pelonggaran sebagian sanksi terhadap ekspor minyak Iran dan Rusia.

Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasokan global di tengah ancaman gangguan distribusi akibat konflik.

Brock Weimer dari Edward Jones menilai bahwa indikator utama de-eskalasi bukan hanya retorika, melainkan realisasi di lapangan. 

“Indikasi paling jelas dari de-eskalasi yang berarti adalah apakah aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz mampu pulih,” ujarnya.

Dari sisi pasar, pergerakan ini menegaskan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.