Akurat
Pemprov Sumsel

Akankah Perang AS-Iran Berujung Pada Resesi Ekonomi AS?

Yosi Winosa | 30 Maret 2026, 22:00 WIB
Akankah Perang AS-Iran Berujung Pada Resesi Ekonomi AS?
Selat Hormuz

AKURAT.CO Ekonomi global pasca pandemi Covid-19 telah menjadi studi tentang ketahanan. Berbagai guncangan—mulai dari lonjakan inflasi, perang di Ukraina, hingga kebijakan tarif Amerika Serikat—telah berulang kali menguji fondasi pertumbuhan.

Namun, di saat yang sama, periode ini juga mencerminkan serangkaian “alarm palsu”, ketika prediksi resesi yang dianggap tak terhindarkan justru tak kunjung terwujud.

Narasi pesimistis sempat mendominasi sepanjang 2024 terhadap kinerja ekonomi di bawah Presiden Joe Biden, dan kembali menguat pasca kebijakan tarif Presiden Donald Trump tahun lalu. Meski demikian, realitas menunjukkan ekonomi tetap bertahan.

Baca Juga: Perang AS-Iran Asimetris Tapi Justru Iran Bisa Menang, Ini Analisis Profesor Jiang Xueqin Peneliti Harvard

Kini, perhatian pelaku usaha tertuju pada eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran yang berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam krisis lebih luas. Pertanyaan utamanya: apakah kali ini resesi benar-benar tak terelakkan?

Ketidakpastian Tinggi, Dampak Belum Terdefinisi

Philipp Carlsson-Szlezak, Managing Director dan Partner di kantor BCG New York bersama Paul Swartz, Executive Director dan Senior Economist di BCG Henderson Institute menilai dampak perang terlihat jelas pada lonjakan harga energi dan gejolak pasar.

"Namun, implikasinya terhadap ekonomi riil jauh dari pasti. Dalam situasi konflik geopolitik, proyeksi makroekonomi menjadi sangat rentan terhadap kesalahan, mengingat banyaknya variabel yang tidak dapat diprediksi," tulis Philipp dan Paul di Harvard Business Review, dikutip Senin (30/3/2026).

Bagi para pemimpin bisnis, pendekatan paling rasional bukanlah meramal, melainkan memahami faktor pendorong geopolitik dan jalur transmisi krisis energi ke ekonomi riil.

Meski konflik ini berpotensi menciptakan tekanan besar, resesi tetap bukan sebuah kepastian.

Belajar dari Sejarah, Tapi Jangan Terjebak

Sejarah kerap dijadikan rujukan dalam membaca krisis energi. Namun, konteks setiap periode berbeda.

Resesi 1990, misalnya, dipicu lonjakan harga minyak akibat Perang Teluk, yang memperparah kondisi ekonomi AS yang sudah rapuh akibat krisis lembaga tabungan dan pinjaman.

Saat itu, intensitas penggunaan energi jauh lebih tinggi dibandingkan sekarang, sehingga dampaknya lebih besar.

Begitu pula krisis energi 1970-an, di mana ekspektasi inflasi yang tidak terkendali membuat lonjakan harga energi langsung mendorong kenaikan suku bunga, membatasi ruang kebijakan moneter dan fiskal.

Kondisi saat ini berbeda—ekspektasi inflasi relatif lebih terkendali. Pelajaran pentingnya: sejarah tidak bersifat formulaik. Setiap krisis memiliki karakter unik.

Durasi Lebih Penting dari Harga

Sorotan publik sering tertuju pada level harga minyak. Namun, dalam perspektif makro, durasi lonjakan harga jauh lebih krusial.

Harga minyak yang melonjak tajam dalam waktu singkat cenderung lebih mudah diserap dibandingkan harga yang lebih rendah namun bertahan lama.

Dengan kata lain, keberlanjutan gangguan—termasuk potensi penutupan Selat Hormuz—akan lebih menentukan dampak ekonomi dibandingkan sekadar volatilitas harga.

Hingga kini, durasi konflik masih sulit diprediksi. Bahkan otoritas di Washington pun tidak memiliki kepastian, mengingat dinamika juga ditentukan oleh kalkulasi strategis Iran.

Pasar keuangan memberikan sinyal moderat. Kenaikan harga minyak jangka pendek memang signifikan, namun ekspektasi jangka panjang relatif terkendali—mengindikasikan pasar melihat konflik sebagai gangguan sementara, bukan perubahan rezim harga energi global.

Lima Jalur Dampak ke Ekonomi Riil

Dampak krisis energi terhadap ekonomi AS dapat ditelusuri melalui lima kanal utama:

1. Inflasi dan Upah Riil

Kenaikan harga energi menekan daya beli konsumen. Jika berlangsung lama, pertumbuhan upah riil bisa tergerus, mengganggu konsumsi sebagai mesin utama ekonomi.

2. Efek Kekayaan (Wealth Effect)

Penurunan pasar saham dapat menekan konsumsi melalui pelemahan neraca rumah tangga. Namun sejauh ini, koreksi pasar masih terbatas dan belum mengindikasikan risiko sistemik.

3. Investasi

Ketidakpastian menahan ekspansi bisnis. Proyek ditunda atau dibatalkan, meskipun sektor energi mungkin terdorong oleh harga tinggi. Secara keseluruhan, dampaknya cenderung negatif namun terbatas jika konflik tidak berkepanjangan.

4. Kondisi Keuangan

Volatilitas pasar meningkatkan biaya dan risiko pembiayaan. Ini dapat menghambat ekspansi perusahaan, meski dampaknya masih relatif moderat.

5. Kebijakan Moneter

Bank sentral cenderung lebih berhati-hati menurunkan suku bunga di tengah inflasi yang kembali naik akibat energi. Ini menjadi hambatan tambahan bagi pertumbuhan.

Risiko Nyata: Akumulasi Guncangan

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi global berhasil menyerap berbagai guncangan secara berurutan—mulai dari inflasi tinggi, kenaikan suku bunga, hingga perang dan tarif perdagangan—tanpa jatuh ke jurang resesi.

Namun, risiko terbesar saat ini bukanlah satu guncangan tunggal, melainkan akumulasi atau konfluensi berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan. Di sinilah batas antara ketahanan dan kerentanan mulai kabur.

Memasuki tahun keenam pasca pandemi, ekspansi ekonomi memang telah “teruji”, tetapi juga mulai menunjukkan tanda kelelahan.

Jika lonjakan harga energi berlangsung lebih lama dari perkiraan, fondasi pertumbuhan dapat terkikis secara perlahan.

Strategi Eksekutif: Analisis, Bukan Spekulasi

Dalam menghadapi ketidakpastian ini, para pemimpin bisnis perlu mengedepankan disiplin analitis:

  • Memisahkan krisis geopolitik dari dampak ekonomi aktual

  • Fokus pada analisis, bukan prediksi

  • Menggunakan sejarah secara kontekstual

  • Memahami risiko dalam kerangka sistemik

  • Menghindari bias informasi yang terlalu pesimistis

Pada akhirnya, arah ekonomi akan ditentukan oleh seberapa lama tekanan berlangsung dan bagaimana berbagai guncangan saling berinteraksi.

Di tengah ketidakpastian, ketahanan tetap menjadi faktor kunci—namun bukan tanpa batas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.