Trump Ultimatum Iran Soal Tenggat Waktu Pembukaan Selat Hormuz, Rupiah Tersungkur 55 Poin ke Rp17.035

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 55 poin (0,32%) ke level Rp17.035 pada perdagangan Senin (6/4/2026) usai ditekan sejumlah sentimen eksternal dan internal.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai dari sisi eksternal, investor tengah fokus pada tenggat waktu Presiden Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden Trump pada hari Minggu memperingatkan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz paling lambat hari Selasa, pukul 8 malam Waktu Bagian Timur. Tenggat waktu ditetapkan untuk lalu lintas kapal tanker agar dapat kembali beroperasi melalui jalur air strategis tersebut.
Trump meningkatkan tekanan selama akhir pekan melalui unggahan di Truth Social, dengan mengatakan, “Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya terbungkus dalam satu hari, di Iran.
"Tidak akan ada yang seperti itu!!!, tukas Trump sembari menambahkan bahwa Iran harus “Membuka Selat Sialan Itu” atau menghadapi konsekuensi berat.
Sementara itu, juru bicara Presiden Iran Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei mengatakan transit melalui selat tersebut hanya dapat dilanjutkan jika sebagian pendapatan dialokasikan untuk mengkompensasi Iran atas kerusakan terkait perang.
"Ancaman tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di Teluk, di mana pengiriman barang tetap sangat terbatas selama beberapa minggu," ujar Ibrahim.
Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat tetap diblokir.
Sementara itu Ekonomi AS menambah 178.000 lapangan kerja pada Maret 2026, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada hari Jumat. Angka ini menyusul penurunan 133.000 (direvisi dari -92.000) dan berada di atas konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan 60.000.
Adapun Tingkat Pengangguran sedikit menurun menjadi 4,3% pada Maret dari 4,4% pada Februari, lebih baik dari perkiraan.
Dari sisi internal, Menteri Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka defisit ini lebih besar dibanding realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni hanya Rp99,8 triliun atau 0,41% terhadap PDB. Pemerintah menargetkan batas atas defisit APBN 2026 mencapai 2,68% terhadap PDB.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, defisit anggaran berasal dari belanja total Rp815 triliun atau tumbuh 31,4% (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sekitar Rp620,3 triliun.
Sementara itu, penerimaan negara hanya terealisasi Rp574,9 triliun, dengan mayoritas disumbang oleh pajak yakni Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3% dari Maret tahun lalu yakni Rp404,7 triliun.
Sejalan dengan itu, pembiayaan anggaran negara sudah terealisasi Rp257,4 triliun atau tumbuh 1,9% (yoy). Dengan kondisi tersebut, keseimbangan primer mengalami defisit Rp95,8 triliun.
Keseimbangan primer merupakan kondisi dimana total pendapatan negara dikurangi belanja negara, di luar pembayaran bunga utang. Apabila total pendapatan negara lebih besar dibandingkan belanja negara di luar pembayaran bunga utang, maka keseimbangan primer akan positif.
Namun, bila keseimbangan negatif maka total pendapatan negara lebih kecil bila dibanding belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Keseimbangan primer surplus berarti utang lama tak perlu dibayar dengan penarikan utang baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









