Bos BI Sebut Ruang Penurunan Suku Bunga Kian Sempit

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memberi sinyal ruang penurunan suku bunga acuan atau BI Rate semakin terbatas di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan tekanan pasar global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan, bank sentral akan mengutamakan stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan dibandingkan pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
“Meskipun BI Rate kami pertahankan 4,75%, nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga harus kemudian menyikapinya menggunakan untuk stabilitas,” ujar Perry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Rupiah ATL Rp17.105, Misbakhun: Cara BI Masih Sangat Konvensional
BI sebelumnya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 16–17 Maret 2026 memutuskan menahan BI Rate di level 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan Lending Facility 5,5%.
Sebagai respons terhadap tekanan eksternal, BI mulai melakukan rekalibrasi kebijakan moneter, termasuk menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing dan menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Ini agar memang kami harus juga membalance antara keperluan menstabilkan nilai tukar, intervensi, dan juga bagaimana supaya outflow itu tidak terlalu buruk,” kata Perry.
Langkah tersebut menjadi perubahan arah dari kebijakan sebelumnya, di mana BI sempat menurunkan imbal hasil SRBI secara agresif untuk mendorong likuiditas. Kini, fokus beralih ke menjaga stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian global.
BI Pastikan Likuiditas Terjaga
Dari sisi likuiditas, BI memastikan kondisi perbankan tetap longgar. Uang primer (M0) tercatat tumbuh double digit sebesar 13,3% untuk menjaga kecukupan likuiditas di sistem keuangan.
“Likuiditas perbankan kita jaga M0-nya tetap double digit bahkan 13,3 persen, kami jaga supaya kecukupan likuiditas itu tercapai,” ujarnya.
Selain itu, BI juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari stabilisasi pasar obligasi domestik. Hingga awal April 2026, realisasi pembelian SBN oleh BI telah mencapai Rp90,05 triliun secara year-to-date.
“Tahun ini kami year to date-nya sudah membeli Rp90,05 triliun [SBN] itu yang kami sudah lakukan,” kata Perry.
Geopolitik Timur Tengah Menjadi Salah Satu Faktor
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, yang sebelumnya juga berdampak pada volatilitas pasar keuangan global, harga energi, serta arus modal ke negara berkembang.
Secara historis, BI cenderung mengutamakan stabilitas nilai tukar dan inflasi dalam kondisi tekanan eksternal, seperti yang terjadi pada periode normalisasi kebijakan moneter global pasca pandemi 2020–2022.
Dampak terhadap Pasar dan Publik
Dengan ruang penurunan suku bunga yang semakin sempit, biaya pinjaman diperkirakan tetap relatif tinggi dalam jangka pendek. Hal ini berpotensi memengaruhi sektor kredit, konsumsi, hingga investasi domestik.
Di sisi lain, kebijakan menjaga daya tarik aset keuangan domestik melalui SRBI dan stabilisasi SBN dinilai penting untuk menahan arus keluar modal (capital outflow) dan menjaga stabilitas rupiah.
BI menegaskan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan stabilisasi pasar untuk memperkuat ketahanan eksternal.
“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah,” ujar Perry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











