Akurat Logo

Rupiah Naik Tipis ke Rp17.211, Ini Pendorongnya

Esha Tri Wahyuni | 27 April 2026, 16:56 WIB
Rupiah Naik Tipis ke Rp17.211, Ini Pendorongnya
Rupiah menguat atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 18 poin (0,10%) ke Rp17.211 pada perdagangan Senin (27/4/2026) di tengah pelemahan indeks dolar AS.

Penguatan rupiah seiring meredanya kekhawatiran pasar atas konflik di Selat Hormuz serta munculnya tekanan baru dari revisi outlook utang Indonesia oleh Moody’s.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut, penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS yang dipicu sentimen geopolitik.

Baca Juga: Rupiah Bergejolak, BI Genjot Intervensi Spot hingga DNDF

“Indeks dolar AS melemah karena pasar mulai mempertimbangkan potensi dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran,” ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Pada penutupan perdagangan sore, rupiah tercatat menguat 18 poin ke level Rp17.211 per USD, dari sebelumnya Rp17.229. Sepanjang hari, mata uang Garuda sempat menguat hingga 20 poin.

Dari sisi global, data pengiriman menunjukkan hanya lima kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Sebelum konflik, jalur ini mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Trump Konfirmasi Tawaran Dari Teheran

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar dalam beberapa pekan terakhir. Jalur strategis ini merupakan choke point energi global, dengan kontribusi sekitar seperlima distribusi minyak dunia.

Situasi sempat memanas setelah Iran menyita dua kapal kargo dan merilis rekaman operasi militernya. Hal ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak.

Namun, sentimen mulai membaik setelah muncul sinyal diplomasi baru. Iran dilaporkan mengajukan proposal kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan konflik, bahkan bersedia menunda pembahasan nuklir demi fokus pada deeskalasi.

Secara paralel, pemerintah AS mengirim utusan khusus untuk membuka jalur komunikasi dengan Iran melalui Pakistan. Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi adanya tawaran dari Teheran.

Sentimen Internal

Di dalam negeri, tekanan datang dari lembaga pemeringkat Moody’s yang mempertahankan rating Indonesia di level Baa2, namun menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif sejak Februari 2026.

Peringkat Baa2 menempatkan Indonesia satu tingkat di atas batas bawah investment grade, namun perubahan outlook mencerminkan meningkatnya risiko fiskal dan eksternal.

Lalu apa dampaknya? kombinasi faktor global dan domestik menciptakan dinamika baru di pasar keuangan Indonesia.

Dari sisi eksternal, potensi meredanya konflik di Selat Hormuz menahan lonjakan harga minyak global. Hal ini penting bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, sehingga berdampak langsung terhadap inflasi dan subsidi energi.

Namun, gangguan distribusi yang masih terjadi, tercermin dari minimnya kapal yang melintas, menunjukkan risiko belum sepenuhnya hilang.

Dari sisi domestik, outlook negatif Moody’s berpotensi meningkatkan premi risiko (risk premium) Indonesia. Dampaknya bisa terlihat pada kenaikan biaya pinjaman pemerintah (yield obligasi), tekanan terhadap arus modal asing hingga volatilitas nilai tukar rupiah.

Pemerintah menyatakan akan menjaga stabilitas melalui sinergi fiskal dan moneter, termasuk optimalisasi kebijakan bersama Bank Indonesia.

Jika jalur Hormuz kembali normal dan suplai energi global stabil, tekanan eksternal terhadap rupiah berpotensi mereda. Namun, outlook negatif dari Moody’s tetap menjadi faktor penahan yang membatasi penguatan lebih lanjut.

Pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat reformasi struktural guna mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.