Akurat Logo

BPS: Volatile Food Deflasi, Energi Picu Inflasi

Andi Syafriadi | 4 Mei 2026, 16:10 WIB
BPS: Volatile Food Deflasi, Energi Picu Inflasi
BPS Mencatata Struktur inflasi April 2026 menunjukkan pangan turun, energi naik. Deflasi volatile food menahan inflasi di tengah kenaikan harga transportasi dan BBM.

AKURAT.CO Struktur inflasi Indonesia pada April 2026 menunjukkan dinamika yang kontras antar komponen, dengan penurunan harga pangan di satu sisi dan kenaikan harga energi serta transportasi di sisi lain.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi bulanan sebesar 0,13%(mtm), yang dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yakni volatile food, inflasi inti, dan harga yang diatur pemerintah.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa komponen pangan bergejolak (volatile food) mengalami deflasi sebesar 0,88% (mtm) dengan kontribusi negatif sebesar 0,15% terhadap inflasi.

Baca Juga: BPS: Deflasi Pangan Jaga Inflasi April Tetap Rendah

Penurunan tersebut dipicu oleh koreksi harga komoditas pangan utama seperti cabai rawit yang turun 14,98%, daging ayam ras 6,20%, telur ayam ras 4,29%, serta cabai merah 5,32%.

Menurut Ateng, penurunan harga tersebut berkaitan dengan normalisasi permintaan setelah periode Ramadhan dan Idul Fitri.

Di sisi lain, tekanan inflasi justru muncul dari komponen inti dan harga yang diatur pemerintah. Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,23% (mtm), didorong oleh kenaikan harga sejumlah barang dan jasa seperti minyak goreng, makanan siap saji, serta perangkat elektronik.

Selain itu, perubahan harga pada sektor energi dan transportasi turut mendorong inflasi dari komponen administered prices. BPS mencatat komponen ini mengalami inflasi sebesar 0,69%(mtm) dengan andil 0,13%.

Baca Juga: BPS: Produksi Gula Naik, Pola Konsumsi Masyarakat Bergeser

Kenaikan harga tersebut dipicu oleh tarif angkutan udara, bensin, bahan bakar rumah tangga, serta produk tembakau.

Kondisi ini mencerminkan adanya pergeseran sumber tekanan inflasi dari sektor pangan ke sektor energi dan jasa, terutama setelah berakhirnya periode permintaan tinggi selama HBKN.

Secara keseluruhan, kombinasi antara deflasi pangan dan inflasi pada komponen energi menghasilkan inflasi yang tetap terkendali pada April 2026.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.