MBG Jadi Motor Baru, Pertumbuhan RI Jadi Yang Tertinggi di Antara G20

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadikannya yang tertinggi di antara negara G20 pada periode yang sama.
Lonjakan ini ditopang kuat oleh belanja pemerintah yang agresif sejak awal tahun, terutama melalui ekspansi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai menunjukkan efek ekonomi signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat belanja pemerintah tumbuh 21,81% yoy dan investasi meningkat 5,96% yoy, yang secara langsung mengerek Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp3.447,7 triliun atas dasar harga konstan pada kuartal I-2026.
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Manufaktur Masih Jadi Tulang Punggung Nasional
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan pertumbuhan 5,52%.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menilai capaian ini merupakan hasil dari eksekusi kebijakan pemerintah sejak 2025.
“Program pemerintah yang diterapkan sejak awal 2025 mulai menunjukkan hasil tahun ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen di tengah kondisi global yang memburuk merupakan capaian yang luar biasa,” ujar Anindya, dalam keterangan tertulis di Jakarta (6/5/2026).
Dari sisi eksternal, data BPS menunjukkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sebesar USD3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dari USD1,27 miliar pada Februari.
Surplus ini memperpanjang tren positif menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dengan total surplus kumulatif mencapai USD5,55 miliar hingga kuartal I-2026. Ekspor tercatat sebesar USD22,53 miliar dan impor USD19,21 miliar.
Meski ekspor secara tahunan turun 3,1%, struktur impor mencerminkan penguatan sektor produktif. Impor barang modal tumbuh 4,98% dan bahan baku penolong naik 2,15%, sementara impor barang konsumsi justru turun 10,81%. Ini mengindikasikan pergeseran aktivitas ekonomi menuju produksi dan investasi.
Realisasi investasi pada triwulan I-2026 mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2% yoy, setara 24,4% dari target tahunan Rp2.041,3 triliun. Sektor hilirisasi menjadi kontributor utama dengan nilai Rp147,5 triliun.
“Investasi yang berkembang saat ini tidak hanya berskala besar, tetapi juga mulai menyasar sektor dan wilayah yang lebih luas,” kata Anindya.
Secara historis, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir cenderung berada di kisaran 5%. Capaian 5,61% pada awal 2026 menjadi sinyal percepatan, terutama di tengah perlambatan ekonomi global. Sebagai perbandingan, China tumbuh 5%, Singapura 4,6%, Korea Selatan 3,6%, serta Amerika Serikat dan Arab Saudi masing-masing 2,8%.
Dari sisi sektoral, pertumbuhan didorong oleh sektor jasa, khususnya akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14%, transportasi 8,04%, serta informasi dan komunikasi 7,14%. Industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap PDB dengan porsi sekitar 19%.
Namun, sudut baru dalam pertumbuhan kali ini muncul dari program MBG. Program yang awalnya berskala terbatas kini berkembang pesat menjadi salah satu motor ekonomi domestik.
Pada kuartal I-2026, MBG telah memiliki 26.066 dapur, memproduksi 60 juta porsi per hari, dan menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja. Putaran uang yang dihasilkan mencapai sekitar Rp900 miliar per hari, melonjak drastis dari Rp37,5 miliar per hari pada tahun sebelumnya.
“Ini mencerminkan efek pengganda yang sangat kuat terhadap perekonomian domestik,” ujar Anindya.
Anindya menegaskan bahwa program MBG tidak hanya berfungsi sebagai bantuan sosial, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi. Dengan total belanja diperkirakan mencapai Rp80 triliun, dana tersebut mengalir langsung ke masyarakat melalui rantai pasok pangan, logistik, dan tenaga kerja lokal.
Program ini telah menjangkau sekitar 56,13 juta penerima di seluruh Indonesia. Dampaknya terlihat pada peningkatan aktivitas sektor riil seperti pertanian dan konstruksi, serta penciptaan lapangan kerja yang tersebar luas. Lebih dari 1,3 juta tenaga kerja terlibat, menjadikan MBG sebagai salah satu program padat karya terbesar saat ini.
Dari sisi wilayah, struktur ekonomi masih didominasi Pulau Jawa yang menyumbang lebih dari separuh PDB nasional. Namun, pertumbuhan di kawasan Bali–Nusa Tenggara dan Sulawesi tercatat lebih tinggi, menunjukkan mulai adanya pergeseran pusat pertumbuhan.
Kadin menilai tantangan berikutnya adalah memastikan aliran investasi terus masuk ke daerah. Ia juga mendorong peningkatan dana transfer ke daerah untuk memperkuat ekonomi lokal, khususnya UMKM.
“Pertumbuhan tidak boleh hanya terjadi di pusat. Daerah harus menjadi sumber pertumbuhan baru,” kata Anindya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










