Akurat Logo

Perry: BI Gelontorkan Likuiditas Rp427,9 Triliun hingga April 2026

Esha Tri Wahyuni | 7 Mei 2026, 19:44 WIB
Perry: BI Gelontorkan Likuiditas Rp427,9 Triliun hingga April 2026
BI menggelontorkan insentif likuiditas Rp427,9 triliun hingga April 2026 untuk menjaga kredit perbankan dan menopang ekonomi nasional.

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menggelontorkan insentif likuiditas makroprudensial hingga Rp427,9 triliun kepada perbankan hingga April 2026 untuk menjaga pertumbuhan kredit dan menopang ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kebijakan likuiditas longgar tetap dipertahankan guna memastikan sektor riil tetap memperoleh pembiayaan.

“Bank Indonesia telah memberikan insentif likuiditas makroprudensial sampai April 2026 mencapai Rp427,9 triliun,” kata Perry dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga: Bank Indonesia Siapkan Tujuh Langkah untuk Perkuat Rupiah

Dari total tersebut, likuiditas terbesar disalurkan kepada bank swasta sebesar Rp166,6 triliun. Sementara bank BUMN menerima Rp22,4 triliun dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp29,6 triliun.

Dana tersebut diarahkan untuk mendukung sektor prioritas pemerintah dalam program Asta Cita, mulai dari pertanian, industri, hilirisasi, perumahan rakyat, UMKM, hingga koperasi.

BI juga tetap mempertahankan kebijakan makroprudensial longgar guna menjaga pertumbuhan kredit di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian pasar keuangan internasional.

“Kebijakan makroprudensial terus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit dan pembiayaan,” ujar Perry.

Di sisi lain, BI juga menjaga likuiditas pasar tetap memadai dengan mempertahankan pertumbuhan uang primer di level dua digit. Hingga terbaru, pertumbuhan uang primer tercatat mencapai 14,1%.

Baca Juga: Usut Tuntas Korupsi CSR, KPK Periksa Dua Pejabat Bank Indonesia

Selain itu, BI telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp123,1 triliun hingga 4 Mei 2026 di pasar sekunder sebagai bagian dari koordinasi erat dengan pemerintah.

Kebijakan tersebut dilakukan ketika BI masih mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75% sejak Februari 2026.

Menurut Perry, kombinasi stabilitas suku bunga, likuiditas longgar, dan penguatan pasar keuangan menjadi strategi utama menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kuat.

Data BI menunjukkan fundamental ekonomi domestik masih relatif solid. Neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Maret 2026 masih mencatat surplus USD5,5 miliar.

Arus modal asing juga kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Hingga 30 April 2026, aliran modal asing tercatat mencapai USD3,3 miliar setelah sebelumnya sempat keluar USD1,7 miliar pada triwulan I 2026.

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 berada di level USD148,2 miliar.

Inflasi juga tetap terkendali. Pada April 2026, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,42%, masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5±1%.

Seperti yang diketahui, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial mulai agresif digunakan BI sejak pandemi COVID-19 untuk menjaga penyaluran kredit perbankan ketika ekonomi mengalami perlambatan.

Kini, instrumen tersebut kembali menjadi bantalan utama menghadapi risiko perlambatan ekonomi global akibat tensi geopolitik dan ketidakpastian arah suku bunga dunia.

BI memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.