Surplus Dagang China Makin Jumbo, Akankah Jadi Alarm Baru bagi AS dan Eropa?

AKURAT.CO Surplus perdagangan China kembali melebar pada April 2026 dan memicu kekhawatiran baru di tengah memanasnya persaingan ekonomi global.
Data terbaru menunjukkan surplus dagang Negeri Tirai Bambu mencapai USD84,8 miliar, melonjak tajam dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD51,1 miliar.
Lonjakan tersebut terjadi setelah ekspor China tumbuh 14,1% secara tahunan, jauh di atas proyeksi analis. Pada saat yang sama, impor juga meningkat 25,3%, mencerminkan tingginya aktivitas industri dan perdagangan di negara tersebut.
Kondisi ini memperkuat posisi China sebagai pusat manufaktur dunia di tengah upaya Amerika Serikat dan Eropa mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok dari Beijing.
Baca Juga: AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Perusahaan di China dan Hong Kong Terkait Drone Iran
Namun, besarnya surplus perdagangan China justru memunculkan kekhawatiran baru terkait overkapasitas industri. Negara-negara Barat menilai produk-produk manufaktur China yang murah berpotensi membanjiri pasar global dan menekan industri domestik mereka.
Sektor elektronik, mesin, dan teknologi tinggi menjadi penyumbang utama lonjakan ekspor China. Permintaan global terhadap produk berbasis AI dan komponen industri juga meningkat signifikan beberapa bulan terakhir.
Di sisi lain, China dinilai semakin agresif memperluas pasar ekspor di luar AS untuk mengurangi dampak perang dagang. Reuters mencatat China berhasil mempertahankan momentum ekspor meski tarif impor AS terhadap produk China masih tinggi.
Sepanjang 2025, surplus perdagangan China bahkan tercatat mencapai rekor USD1,2 triliun. Sementara pada 2026 ini, surplus perdagangan China dengan AS dilaporkan sudah mencapai USD87,7 miliar.
Kondisi tersebut menjadi salah satu isu utama menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan depan. Pemerintah AS diperkirakan akan kembali mendorong pembahasan soal tarif, akses pasar, hingga ketimpangan perdagangan kedua negara.
Meski begitu, sejumlah analis memperkirakan tidak akan ada perubahan drastis dalam waktu dekat. Hubungan dagang AS-China dinilai masih dibayangi rivalitas teknologi, geopolitik, dan keamanan kawasan.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi domestik China sendiri belum sepenuhnya pulih. Konsumsi masyarakat masih lemah dan tingkat pengangguran meningkat. Akibatnya, pemerintah China terus mengandalkan sektor ekspor sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Trump Siapkan Kunjungan ke China, Tim Cook Masuk Daftar CEO Undangan
Selain itu, konflik di Timur Tengah juga mulai memengaruhi biaya produksi industri China. Reuters melaporkan impor minyak mentah China turun tajam akibat terganggunya distribusi energi global dari kawasan Teluk.
Meski tantangan global meningkat, data perdagangan April menunjukkan posisi China sebagai pemain utama perdagangan dunia masih sulit tergantikan dalam waktu dekat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








