Akurat Logo

Surplus Dagang China Makin Jumbo, Akankah Jadi Alarm Baru bagi AS dan Eropa?

Andi Syafriadi | 10 Mei 2026, 13:50 WIB
Surplus Dagang China Makin Jumbo, Akankah Jadi Alarm Baru bagi AS dan Eropa?
Ilustrasi Bendera Negara China (Source: Unsplash)

AKURAT.CO Surplus perdagangan China kembali melebar pada April 2026 dan memicu kekhawatiran baru di tengah memanasnya persaingan ekonomi global.

Data terbaru menunjukkan surplus dagang Negeri Tirai Bambu mencapai USD84,8 miliar, melonjak tajam dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD51,1 miliar.

Lonjakan tersebut terjadi setelah ekspor China tumbuh 14,1% secara tahunan, jauh di atas proyeksi analis. Pada saat yang sama, impor juga meningkat 25,3%, mencerminkan tingginya aktivitas industri dan perdagangan di negara tersebut.

Kondisi ini memperkuat posisi China sebagai pusat manufaktur dunia di tengah upaya Amerika Serikat dan Eropa mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok dari Beijing.

Baca Juga: AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Perusahaan di China dan Hong Kong Terkait Drone Iran

Namun, besarnya surplus perdagangan China justru memunculkan kekhawatiran baru terkait overkapasitas industri. Negara-negara Barat menilai produk-produk manufaktur China yang murah berpotensi membanjiri pasar global dan menekan industri domestik mereka.

Sektor elektronik, mesin, dan teknologi tinggi menjadi penyumbang utama lonjakan ekspor China. Permintaan global terhadap produk berbasis AI dan komponen industri juga meningkat signifikan beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, China dinilai semakin agresif memperluas pasar ekspor di luar AS untuk mengurangi dampak perang dagang. Reuters mencatat China berhasil mempertahankan momentum ekspor meski tarif impor AS terhadap produk China masih tinggi.

Sepanjang 2025, surplus perdagangan China bahkan tercatat mencapai rekor USD1,2 triliun. Sementara pada 2026 ini, surplus perdagangan China dengan AS dilaporkan sudah mencapai USD87,7 miliar.

Kondisi tersebut menjadi salah satu isu utama menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan depan. Pemerintah AS diperkirakan akan kembali mendorong pembahasan soal tarif, akses pasar, hingga ketimpangan perdagangan kedua negara.

Meski begitu, sejumlah analis memperkirakan tidak akan ada perubahan drastis dalam waktu dekat. Hubungan dagang AS-China dinilai masih dibayangi rivalitas teknologi, geopolitik, dan keamanan kawasan.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi domestik China sendiri belum sepenuhnya pulih. Konsumsi masyarakat masih lemah dan tingkat pengangguran meningkat. Akibatnya, pemerintah China terus mengandalkan sektor ekspor sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Trump Siapkan Kunjungan ke China, Tim Cook Masuk Daftar CEO Undangan

Selain itu, konflik di Timur Tengah juga mulai memengaruhi biaya produksi industri China. Reuters melaporkan impor minyak mentah China turun tajam akibat terganggunya distribusi energi global dari kawasan Teluk.

Meski tantangan global meningkat, data perdagangan April menunjukkan posisi China sebagai pemain utama perdagangan dunia masih sulit tergantikan dalam waktu dekat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.