QRIS hingga SRBI Jadi Senjata BI Stabilkan Rupiah di Tengah Krisis

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi menjaga stabilitas rupiah dengan memperluas instrumen pasar uang untuk investor ritel dan korporasi di tengah meningkatnya gejolak ekonomi global.
Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dan investor tetap mempertahankan aset dalam mata uang rupiah meski tekanan pasar keuangan global masih tinggi.
Deputi Gubernur BI, Aida Budiman mengatakan, pengembangan instrumen pasar uang menjadi bagian dari upaya menjaga daya tarik aset domestik sekaligus memperluas pilihan investasi masyarakat. Menurut dia, strategi itu juga diarahkan untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan nasional.
Baca Juga: Bank Indonesia Siapkan Tujuh Langkah untuk Perkuat Rupiah
“Supaya investor mau menanam modalnya di Indonesia dan masyarakat tetap memegang aset dalam rupiah,” ujar Aida dalam acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) sebagaimana dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Langkah BI dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu suku bunga tinggi di Amerika Serikat, volatilitas nilai tukar, hingga arus modal asing yang bergerak cepat keluar-masuk negara berkembang. Dalam kondisi tersebut, stabilitas aset rupiah menjadi perhatian utama otoritas moneter.
Pada awal Mei 2026, BI bahkan telah mengeluarkan tujuh instrumen stabilisasi nilai tukar rupiah. Kebijakan tersebut mencakup intervensi pasar spot domestik, domestic non-deliverable forward (DNDF), non-deliverable forward (NDF) luar negeri, pembelian surat berharga negara (SBN), hingga penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selain itu, BI juga memperketat pengawasan transaksi valuta asing dengan menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari sebelumnya USD100.000 per bulan menjadi USD50.000 per bulan dan selanjutnya akan diturunkan lagi menjadi USD25.000 per bulan.
Baca Juga: Usut Tuntas Korupsi CSR, KPK Periksa Dua Pejabat Bank Indonesia
Kebijakan tersebut mencerminkan fokus BI menjaga permintaan terhadap rupiah tetap kuat di tengah tekanan eksternal. Data BI menunjukkan nilai tukar rupiah sepanjang 2025 hingga awal 2026 bergerak fluktuatif mengikuti arah suku bunga global dan penguatan indeks dolar AS.
Di sisi lain, BI juga memperkuat fondasi domestik melalui digitalisasi sistem pembayaran dan peningkatan literasi keuangan. Aida menyebut literasi keuangan kini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman produk investasi, tetapi juga kemampuan masyarakat mengambil keputusan finansial secara bijak dan berkelanjutan.
“Di tengah dinamika global, BI memastikan setiap kebijakan yang ditempuh diarahkan untuk memperkuat stabilitas sekaligus tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di antaranya melalui peningkatan inklusi dan literasi keuangan,” kata Aida.
Salah satu instrumen yang terus diperkuat ialah digitalisasi pembayaran melalui QRIS. Hingga April 2026, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 63 juta dengan lebih dari 45 juta merchant, mayoritas berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Peningkatan penggunaan QRIS dinilai penting karena memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal serta mempercepat perputaran ekonomi digital domestik. Dalam beberapa tahun terakhir, QRIS juga menjadi salah satu tulang punggung transformasi pembayaran digital nasional sejak diluncurkan secara masif pada 2020.
Selain memperkuat sistem pembayaran, BI juga mengembangkan talenta digital melalui program Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) dan Digdaya x Hackathon. Program tersebut diarahkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap transformasi ekonomi digital nasional.
Di sisi perlindungan konsumen, BI menjalankan program PeKA atau Peduli, Kenali, dan Adukan guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penipuan dan kejahatan digital yang terus meningkat seiring pertumbuhan transaksi elektronik.
Program LIKE IT sendiri merupakan kolaborasi antara Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









