Akurat Logo

Pertumbuhan Ekonomi RI Tertinggi Sejak Kuartal III-2022, BPS: Imbas Kebijakan Stimulus Pemerintahan Presiden Prabowo

Esha Tri Wahyuni | 27 Mei 2026, 17:42 WIB
Pertumbuhan Ekonomi RI Tertinggi Sejak Kuartal III-2022, BPS: Imbas Kebijakan Stimulus Pemerintahan Presiden Prabowo
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, fundamental ekonomi domestik masih berada dalam kondisi solid

AKURAT.CO Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy), menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2022.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga saat Ramadan dan Idulfitri, serta investasi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional pada awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, fundamental ekonomi domestik masih berada dalam kondisi solid meski dunia tengah menghadapi perlambatan ekonomi dan ketidakpastian global.

“Fundamental ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I atau Januari sampai dengan Maret 2026 itu masih terlihat solid,” kata Amalia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (27/5/2026).

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52% dengan kontribusi mencapai 54,38% terhadap produk domestik bruto (PDB). Komponen ini menyumbang 2,94% poin terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Amalia, daya beli masyarakat masih relatif terjaga, terutama ditopang meningkatnya mobilitas masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri 2026.

Peningkatan aktivitas terlihat pada sektor perdagangan, transportasi, hotel, restoran, hingga transaksi ekonomi digital selama periode libur panjang.

“Konsumsi rumah tangga memang menopang lebih dari setengah ekonomi Indonesia yang tumbuh di kuartal I-2026,” ujarnya.

Selain konsumsi masyarakat, investasi juga menunjukkan penguatan. BPS mencatat pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 5,96% dengan kontribusi 28,29% ke PDB dan menyumbang 1,79% poin terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan investasi ditopang peningkatan impor barang modal seperti mesin, perlengkapan produksi, dan kendaraan operasional. BPS mencatat impor barang modal tumbuh 14,27% pada periode Januari-Maret 2026.

Tak hanya itu, realisasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) juga meningkat 7,2% secara tahunan. Sementara belanja modal pemerintah melonjak hingga 36,7%.

“Impor barang modal itu tumbuhnya 14,27 persen. Realisasi PMA dan PMDN 7,2 persen. Dan belanja modal pemerintah tumbuh 36,7 persen,” kata Amalia.

Salah satu faktor yang menjadi sorotan dalam pertumbuhan ekonomi awal tahun ini adalah lonjakan konsumsi pemerintah.

BPS mencatat konsumsi pemerintah tumbuh 21,81% dan menyumbang 1,26% poin terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Angka tersebut tergolong tidak biasa untuk kuartal pertama. Sebagai informasi, realisasi belanja pemerintah pada awal tahun cenderung rendah karena proses administrasi anggaran yang masih berjalan.

Namun pada 2026, pemerintah mempercepat belanja barang, jasa, dan berbagai stimulus fiskal sejak awal tahun.

“Biasanya di kuartal pertama pengeluaran pemerintah itu terbatas, tetapi khusus di kuartal I-2026 ini ada kebijakan stimulus pemerintah yang kemudian realisasi belanja anggaran pemerintah di era Bapak Presiden Prabowo ini mendorong stimulus pemerintah,” ujar Amalia.

Percepatan belanja negara tersebut dinilai memberi efek pengganda terhadap aktivitas ekonomi domestik lebih cepat dibandingkan pola tahunan sebelumnya.

Kondisi ini menjadi pembeda utama pertumbuhan ekonomi awal 2026 dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Dari sisi lapangan usaha, sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,04%.

Kenaikan ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat dan distribusi barang selama musim libur dan pemulihan aktivitas logistik.

Sektor perdagangan juga tumbuh kuat sebesar 6,26%, diikuti industri pengolahan 5,04% serta pertanian 4,97%. Industri pengolahan tetap menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional.

Data pertumbuhan ekonomi ini muncul di tengah kondisi global yang masih dibayangi perlambatan ekonomi sejumlah negara maju, tensi geopolitik, dan ketidakpastian arah suku bunga global.

Namun konsumsi domestik yang besar dinilai masih menjadi bantalan utama ekonomi Indonesia.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan juga mengingatkan pentingnya memperluas sumber pembiayaan jangka panjang untuk menopang target pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Sementara Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyebut capaian 5,61% menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2022.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.