Akurat Logo

Ekonomi Jalan Tengah Prabowo: Menjalankan Smart State Trading dengan Tata Kelola Modern Transparan

Aldi Gultom | 28 Mei 2026, 07:44 WIB
Ekonomi Jalan Tengah Prabowo: Menjalankan Smart State Trading dengan Tata Kelola Modern Transparan
Presiden Prabowo mengumumkan kebijakan baru PP Tata Kelola Ekspor SDA untuk menegaskan bahwa kekayaan alam harus untuk kemakmuran rakyat, di Gedung DPR RI, Jakarta, 20 Mei 2026. Foto: Setneg RI

AKURAT.CO Dunia usaha pasti terkejut oleh kebijakan baru ekspor sumber daya alam (SDA) satu pintu yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan baru itu pun membuat investor bertanya-tanya, mengapa dan bagaimana implementasi tata kelolanya.

Menurut ekonom senior yang juga Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., kebijakan baru tata kelola ekspor SDA adalah pilihan politik dari Presiden Prabowo Subianto yang mendapat mandat rakyat untuk menjalankan pemerintahan dan kebijakan-kebijakan ekonominya.

"Pilihan ini sudah jelas, negara akan memainkan peranan lebih besar di dalam ekonomi. Indonesia tidak akan menjadi penonton kekayaan alamnya sendiri, yang dieksploitasi selama berpuluh-puluh tahun tanpa negara mempunyai kendali atas kekayaan tersebut," kata Didik dalam pendapat tertulis yang diterima redaksi, Rabu (27/5/2026).

Dengan kebijakan baru tata kelola ekspor SDA, negara akan hadir dan mulai menjadi pengendali atas masa depannya. Dia menyebutnya sebagai pilihan terbaik sebab Indonesia bisa memilih jalan tengah di mana negara hadir tetapi swasta tetap melakukan produksi dengan efisien.

"Ini pilihan terbaik tetapi presiden akan mengambil posisi yang mana, masih belum bisa ditebak. Tetapi yang jelas, Indonesia di masa lalu sudah menjalankan praktik ekonomi liberal dan menurut saya tidak cocok menjadi negara ultra-liberal, yang menyerahkan seluruh SDA kepada pasar global," jelas Didik.

Sebaliknya, ia melanjutkan, Indonesia juga tidak cocok menjadi negara ekonomi komando yang mematikan swasta. Praktik seperti ini akan mematikan ekonomi dan menjadikan negara lebih miskin.

"Pilihan ekonomi jalan tengah adalah yang terbaik selama ini dan banyak dijalankan oleh negara-negara sosialisme pasar, seperti Jerman, Denmark dan banyak negara Skandinavia lainnya," ungkap Didik.

Dalam jalan tengah, negara hadir secara nyata dan memainkan peranannya secara strategis, sementara swasta menjalankan aktivitas ekonomi dan produksi secara efisien. Negara menjalankan regulasi untuk kemakmuran, menguasai data, dan atas data tersebut melakukan pengawasan. Untuk kasus sumberdaya alam ini harus mengendalikan devisa.

"Sementara itu, swasta memainkan peranan di pasar dengan melakukan produksi yang efisien, inovasi, serta terus menjalankan bisnis secara efisien agar bisa bersaing di pasar global," terang Didik.

Pilihan akhirnya bukan lagi soal ideologi atau ekonomi politik antara negara atau pasar, tetapi bagaimana mendesain implementasi tata kelola sistem ekspor satu pintu yang mampu memperkuat negara tanpa mematikan efisiensi sektor swasta.

Agar tidak salah desain negara langsung menjadi pedagang, menurut dia diperlukan lembaga profesional independen, seperti Sucofindo dan SGS, dalam rangka membantu negara memperkuat kehadirannya mengawasi pengelolaan sumber daya alam lewat kendali ekspor. Kehadiran kedua lembaga tersebut diperlukan untuk menjaga transparansi dan kredibilitas global.

"Jadi, desain tata kelola di lapangan sangat penting pada masa transisi ini. Jika berhasil, kebijakan ini bisa menjadi reformasi tata niaga terbesar sejak reformasi 1998. Tetapi jika salah desain, ia bisa berubah menjadi birokrasi monopoli baru yang justru melemahkan ekonomi nasional," jelasnya.

Smart State Trading

Dari perspektif ekonomi politik dan analisis kebijakan, Didik melihat keberhasilan kebijakan ekspor satu pintu tidak terletak pada monopoli negara secara penuh, melainkan pada desain tata kelola gabungan peran bersama, yakni kontrol strategis negara atas SDA, peranan swasta yang efisien dan lembaga independen profesional di lapangan.

Jadi, tata kelolanya tidak berat pada birokrasi murni dan tertutup, yang berisiko mematikan peran swasta, tetapi menjadi model “smart state trading”. Negara tetap mengendalikan arah ekspor satu pintu, mengendalikan devisa, menguasai data dan pengawasan. Sementara itu, peranan swasta tetap harus efisien di pasar.

"Dengan model tata kelola seperti ini, maka penguatan penerimaan negara akan sukses, stabilitas ekonomi dan lingkungan bisnis yang sehat terjaga dan bahkan kompatibel dengan kebutuhan industrialisasi nasional. Jadi, model birokrasi penuh tidak dianjurkan karena berisiko tidak efisien dan korupsi," ujar Didik.

Tentang peran lembaga profesional yang independen, seperti Sucofindo dan SGS, menurut Didik di sini peluang kunci keberhasilan karena tata kelola seperti ini menjadi “best practice” di banyak negara. Kendali ekspor satu pintu dan pengawasannya bukan terletak pada monopoli BUMN semata apalagi dengan birokrasi konvensional, melainkan pada sistem verifikasi independen yang cepat dan tepat.

Peran lembaga independen menjadi sangat strategis dan akan membantu negara mencapai tujuannya mengendalikan ekspor SDA satu pintu. Satu lembaga independen menjadi tulang punggung verifikasi nasional dalam hal audit volume, pengawasan shipment, sertifikasi mutu, dan integrasi data ekspor nasional. Sementara itu, lembaga independen tingkat global berperan sebagai lembaga inspeksi independen yang dipercaya buyer internasional.

"Kombinasi keduanya sangat penting akan meningkatkan trust karena dunia internasional tidak cukup percaya pada pengawasan internal birokrasi konvesional. Pasar global sangat membutuhkan transparansi, independensi, dan kredibilitas internasional. Dengan tata kelola seperti ini, negara tetap kuat, eksis dan hadir di lapangan, tetapi kegiatan ekspor tetap diaudit secara independen," jelas Didik.

Dengan tata kelola yang terbaik, maka tujuan kebijakan ini akan terwujud. Indonesia bisa menjadi penentu harga, bukan seperti selama ini hanya menjadi “price taker”. Yang terkena dampai negatif adalan pedagang-pedagang broker di Singapura.

Jika tata kelola ekspor bisa dikonsolidasikan dengan baik, maka Indonesia sebenarnya bisa meningkatkan daya tawar harga dan mengurangi permainan broker/trader internasional.

Biasanya broker yang kehilangan peranannya akan berteriak dan bahkan melakukan perlawanan terhadap kebijakan seperti ini. Kekuatan baru ini pada gilirannya akan dapat membangun benchmark harga regional dengan pendapatan devisa yang lebih tinggi.

"Tetapi, semua hal tadi hanya mungkin jika tata kelolanya modern dan transparan. Kelembagaannya dirancang dengan baik atau getting institution right," tutur Didik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.