Akurat Logo

Tak Sekadar Investasi, Ketum Hipmi Sebut Kunjungan Presiden Jerman Momentun Transfer Teknologi

Esha Tri Wahyuni | 16 Juni 2026, 21:33 WIB
Tak Sekadar Investasi, Ketum Hipmi Sebut Kunjungan Presiden Jerman Momentun Transfer Teknologi
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menjabat tangan Ketua Umum BPP HIPMI, Ade Jona Prasetyo, di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

AKURAT.CO Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) melihat kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier, sebagai momentum memperkuat kerja sama ekonomi yang lebih strategis antara Indonesia dan Jerman.

Utamanya pada sektor transfer teknologi, pengembangan industri bernilai tambah, hingga pendidikan vokasi.

Ketua Umum BPP HIPMI, Ade Jona Prasetyo mengatakan, hubungan Indonesia dan Jerman selama ini tidak hanya bertumpu pada perdagangan dan investasi, tetapi juga memiliki peluang besar untuk mendorong modernisasi industri nasional.

Jerman merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di Eropa, khususnya dalam bidang investasi, teknologi, manufaktur, pendidikan vokasi, dan pengembangan industri berkelanjutan.

Baca Juga: RI Incar Transfer Teknologi dari Jerman lewat IEU-CEPA Tahun Ini

"Kami melihat banyak peluang untuk meningkatkan kerja sama yang lebih konkret, terutama dalam bidang investasi, transfer teknologi, pengembangan industri bernilai tambah, energi terbarukan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia," kata Ade Jona dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (16/6)2026).

Menurutnya, rangkaian kunjungan Presiden Jerman ke Istana Negara menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi dunia usaha.

"HIPMI sebagai organisasi pengusaha terbesar di Indonesia siap menjadi jembatan yang menghubungkan pengusaha Indonesia dengan dunia usaha Jerman," ujarnya.

Berbeda dengan kerja sama ekonomi yang selama ini identik dengan investasi modal, HIPMI menilai pengalaman Jerman dalam membangun industri manufaktur modern dan sistem pendidikan vokasi dapat menjadi referensi penting bagi pengembangan ekosistem industri Indonesia.

Data resmi menunjukkan Jerman merupakan salah satu mitra ekonomi utama Indonesia di kawasan Eropa.

Berdasarkan data perdagangan pemerintah, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Jerman dalam beberapa tahun terakhir konsisten berada di kisaran miliaran dolar AS, dengan mesin industri, produk manufaktur, otomotif, dan teknologi menjadi sektor utama kerja sama.

Selain itu, Jerman dikenal sebagai negara dengan basis industri manufaktur terbesar di Eropa dan memiliki sistem pendidikan vokasi dual system yang menjadi rujukan banyak negara dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang sesuai kebutuhan industri.

Ade Jona menegaskan, pengusaha muda Indonesia memiliki semangat besar untuk berkolaborasi dengan mitra internasional guna meningkatkan daya saing nasional.

"Hubungan Indonesia dan Jerman memiliki fondasi yang sangat kuat. HIPMI siap menjadi mitra strategis dalam mempertemukan pelaku usaha kedua negara. Kami ingin mendorong lebih banyak kolaborasi bisnis, investasi, inovasi teknologi, hingga program pengembangan kewirausahaan yang dapat memberikan manfaat bagi Indonesia dan Jerman," katanya.

HIPMI juga melihat penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Jerman berpotensi membuka akses yang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia untuk masuk ke pasar Eropa.

Langkah tersebut dinilai penting karena pasar Uni Eropa merupakan salah satu tujuan ekspor potensial bagi produk manufaktur, furnitur, tekstil, makanan olahan, hingga produk ekonomi kreatif Indonesia.

Di sisi lain, dukungan Jerman terhadap percepatan ratifikasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) diperkirakan dapat memperluas akses pasar dan memperkuat integrasi Indonesia ke dalam rantai pasok global.

Di tengah upaya pemerintah mendorong hilirisasi dan transformasi ekonomi berbasis industri bernilai tambah, transfer teknologi menjadi salah satu kebutuhan utama Indonesia. Kehadiran investasi tanpa peningkatan kemampuan teknologi domestik dinilai tidak cukup untuk mempercepat daya saing industri nasional.

Karena itu, fokus HIPMI terhadap kerja sama teknologi, pendidikan vokasi, dan pengembangan sumber daya manusia menunjukkan arah baru hubungan ekonomi Indonesia-Jerman yang tidak hanya mengejar arus modal, tetapi juga peningkatan kapasitas industri dalam jangka panjang.

"Pengusaha muda Indonesia siap menjadi bagian dari kemitraan strategis Indonesia-Jerman di masa depan," kata Ade Jona.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.