Akurat Logo

Rupiah Tetap Melemah Usai Peningkatan Cadev, Tembus Rp18.014

Esha Tri Wahyuni | 8 Juli 2026, 17:50 WIB
Rupiah Tetap Melemah Usai Peningkatan Cadev, Tembus Rp18.014
Rupiah melemah ke Rp18.014

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan ditutup melemah 34 poin (0,19%) ke level Rp18.014 per USD pada perdagangan Rabu (8/7/2026), meski Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi USD145,6 miliar pada akhir Juni 2026. 

Kondisi ini menunjukkan tekanan eksternal masih lebih dominan dibanding tambahan amunisi devisa yang dimiliki bank sentral.

Pengamat Komoditas dan Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) memulai serangkaian serangan terhadap Iran. 

Baca Juga: OJK Perketat Stress Test LJK Antisipasi Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Melemah

Aksi militer tersebut disebut sebagai respons atas serangan Teheran terhadap jalur pelayaran komersial di kawasan.

"Iran juga dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak dunia sehingga mendorong investor kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (8/7/2026).

Selain konflik geopolitik, pemerintah AS juga mencabut kebijakan yang sebelumnya memberi ruang bagi Iran menjual minyak ke pasar internasional. 

Langkah tersebut diperkirakan dapat memperketat pasokan minyak global dalam beberapa pekan mendatang dan kembali memicu kenaikan harga energi.

Dari sisi pasar keuangan AS, tekanan terhadap mata uang negara berkembang juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun yang naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar.

Pelaku pasar juga menunggu publikasi risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan terbit Kamis (9/7/2026) dini hari WIB. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas penurunan suku bunga The Fed pada September berada di kisaran 60%, sementara peluang perubahan suku bunga pada Juli masih relatif kecil.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga muncul di tengah kondisi fiskal yang masih mengalami defisit. Kementerian Keuangan mencatat APBN Semester I-2026 mengalami defisit Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi tersebut berasal dari pendapatan negara sebesar Rp1.459,4 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp1.656 triliun. Dibandingkan Mei 2026, defisit meningkat dari Rp180,4 triliun atau 0,70% PDB.

Meski demikian, secara tahunan posisi defisit masih lebih rendah dibanding Semester I-2025 yang mencapai 0,84% terhadap PDB.

Sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN karena depresiasi nilai tukar dapat memperbesar belanja pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kewajiban berdenominasi valuta asing dan subsidi energi apabila harga minyak terus meningkat.

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia naik menjadi USD145,6 miliar pada akhir Juni 2026, meningkat dibanding posisi Mei sebesar USD144,9 miliar.

Bank Indonesia menjelaskan kenaikan tersebut didukung oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar yang dilakukan bank sentral untuk meredam gejolak pasar keuangan global.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. 

Posisi tersebut dinilai masih mampu menjaga ketahanan sektor eksternal serta mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.

Meski demikian, tambahan cadangan devisa belum mampu sepenuhnya meredam tekanan di pasar valuta asing. Rupiah pada penutupan perdagangan Rabu tercatat melemah 34 poin menjadi Rp18.014 per USD, dari posisi sebelumnya Rp17.980 per USD.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.