Pasar Cermati APBN dan Konflik AS-Iran, Rupiah Ditaksir Melemah ke Kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditaksir bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110 per USD pada perdagangan hari ini, Kamis (16/7/2026), menurut Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi.
Adapun pada perdagangan Rabu (15/7/2026), rupiah ditutup di zona hijau. Rupiah menguat 23 poin ke level Rp18.068 per USD dari posisi sebelumnya Rp18.091 per USD.
Ibrahim menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik global, terutama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan militer terhadap Iran.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Ikut Mendorong Harga Obat, Allianz Soroti Tekanan terhadap Biaya Kesehatan
Trump disebut memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Di sisi lain, Teheran merespons dengan menutup kembali Selat Hormuz serta melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya jalur distribusi energi dunia yang dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dan mendorong investor kembali memburu aset safe haven, termasuk dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, sentimen tersebut sempat diimbangi oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Juni tercatat melambat menjadi 3,5% secara tahunan dari sebelumnya 4,2%. Inflasi inti juga turun menjadi 2,6%, lebih rendah dibandingkan proyeksi 2,8%.
Data tersebut membuat pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16% dari sebelumnya 40%, sedangkan probabilitas kenaikan pada September turun menjadi 60% dari 74%.
Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah seiring pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Outlook pemerintah memperkirakan defisit APBN melebar menjadi Rp734,32 triliun. Sejalan dengan itu, pembiayaan utang neto diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp868,12 triliun, sementara kebutuhan penarikan utang bruto diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun sepanjang tahun ini.
Selain itu, pemerintah juga menghadapi kewajiban pembayaran pokok utang sekitar Rp900 triliun. Dengan tambahan pembiayaan baru serta dampak pelemahan rupiah terhadap utang valas, posisi utang pemerintah diproyeksikan meningkat hingga sekitar Rp10.600 triliun pada akhir 2026.
Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD444,4 miliar atau tumbuh 2,1% secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama ditopang meningkatnya utang sektor publik seiring masuknya dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
Menurut Ibrahim, kombinasi ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah masih menjadi faktor yang membuat pelaku pasar berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.
"Rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif. Sentimen geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas memang menjadi penopang penguatan dolar AS, sementara dari domestik pasar juga mencermati meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah," kata Ibrahim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










