Akurat Logo

Rupiah Ditaksir Lanjutkan Pelemahan ke Rp17.920-Rp17.970

Esha Tri Wahyuni | 23 Juli 2026, 08:17 WIB
Rupiah Ditaksir Lanjutkan Pelemahan ke Rp17.920-Rp17.970
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (23/7/2026).

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda diperkirakan tetap menjadi sentimen utama yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS), meski Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berasal dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, terutama dolar AS, di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Strategi Baru Perkuat Rupiah ala Bos BI

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.920 hingga Rp17.970 per USD," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).

Menurut Ibrahim, pelaku pasar kini mencermati meningkatnya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang telah memasuki malam ke-11. Serangan tersebut menyasar lokasi peluncuran rudal dan drone, fasilitas komando, sistem pertahanan udara, hingga infrastruktur militer Iran.

Di sisi lain, Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang semakin meluas.

Tidak hanya itu, ancaman kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran untuk melakukan blokade terhadap jalur pelayaran di Laut Merah turut meningkatkan kekhawatiran pasar energi global. 

Sejumlah kapal tanker minyak dilaporkan mulai mengubah rute pelayaran akibat meningkatnya risiko keamanan.

Ancaman tersebut muncul ketika lalu lintas kapal di sekitar Selat Hormuz juga masih terganggu.

Padahal, kawasan tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak mentah terpenting di dunia sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi mengurangi pasokan energi global sekaligus meningkatkan biaya logistik dan asuransi.

Ibrahim menilai kondisi tersebut turut memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

"Harga minyak yang tetap tinggi akibat gangguan pasokan dari kawasan Teluk meningkatkan risiko inflasi di Amerika Serikat. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat sehingga dolar AS kembali menguat," ujarnya.

Data Prime Terminal juga menunjukkan probabilitas sebesar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Sementara peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 68%.

Dari dalam negeri, pasar juga masih mencermati kondisi fiskal pemerintah. Hingga akhir Juni 2026, APBN mencatat defisit Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara telah menyentuh Rp1.656 triliun.

Meski demikian, Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas pasar keuangan dengan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. BI juga memperluas berbagai kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran modal asing ke pasar keuangan domestik sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan Rabu (22/7/2026), rupiah ditutup melemah 65 poin menjadi Rp17.920 per USD dari posisi sebelumnya Rp17.888 per USD.

Menurut Ibrahim, langkah Bank Indonesia memang memberikan sinyal positif bagi pasar. Namun, tekanan dari faktor global dinilai masih lebih dominan sehingga ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek masih terbatas.

"Selama tensi geopolitik masih tinggi dan indeks dolar AS terus menguat, pergerakan rupiah diperkirakan tetap cenderung berada dalam tekanan meskipun Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar," katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.